Kamis, 05 November 2009

Dinosaurus Lapis Baja Ditemukan


MONTANA, KOMPAS.com — Sepasang suami istri paleontolog telah menemukan spesies baru dinosaurus yang hidup 112 juta tahun lalu di wilayah yang kini menjadi Montana. Uniknya, dinosaurus tersebut memiliki lapisan keras di kulitnya sehingga mirip kendaraan lapis baja.

Keduanya, Bill dan Kris Parsons, dari Buffalo Museum of Science, New York, menemukan tengkorak dino tersebut di lereng bukit di Montana tahun 1997. Mereka kemudian meneruskan pencarian dan penggalian hingga terkumpul fosil yang hampir lengkap, termasuk tengkorak dengan lapisan pelindungnya, potongan rusuk, tulang belakang, dan tulang kaki.

Hewan yang kemudian dinamai Tatankacephalus cooneyorum adalah sejenis ankylosaurus, dinosaurus pemakan tanaman yang tubuhnya ditutupi lapisan tulang. Lapisan itu mungkin berwarna, dan bahannya serupa kerapak kura-kura atau paruh burung.

"Mereka adalah dinosaurus besar yang berjalan dengan empat kaki dan berpelindung seperti tank Sherman," kata Bill Parsons tentang hewan yang panjangnya mencapai 4,5 hingga 6 meter itu.

Selain berlapis baja, dinosaurus ini dilengkapi juga dengan dua pasang tanduk lancip, satu di pipinya dan satu pasang lagi di sekitar matanya. Ia memiliki dua lapisan tebal di belakang kepala dan bagian yang keras di sekitar hidung.

Bill Parsons yakin, semasa hidupnya, T cooneyorum ditutupi ratusan atau ribuan keping lapisan keras, memiliki sirip keras di punggung, dan duri di bagian ekornya, serupa dengan ankylosaurus.

Untuk menghindari pemangsa, ankylosaurus mungkin merundukkan tubuhnya di tanah dan menarik kepalanya, sementara tanduk di kepalanya melindungi dari gigitan ke arah leher.

Adapun jenis yang ditemukan ini diduga merupakan jenis yang muncul setelah ankylosaurus yang lebih primitif dan ankylosaurus yang hadir kemudian dengan tanduk lebih besar dan bagian hidung lebih lengkung.

Penelusuran Benteng Kota Lama Semarang

SEMARANG, KOMPAS.com - Upaya penelusuran keberadaan Benteng Kota Lama yang dilakukan tim penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta akan ditindaklanjuti. Hal ini karena ekskavasi benteng tersebut pada akhir Mei lalu masih terkendala keterbatasan ruang terbuka dan izin dari pemilik lahan.

"Kemungkinan, pada bulan Juli atau Agustus 2010, tim kembali mengadakan ekskavasi untuk mengetahui bentuk Benteng Kota Lama," ujar Sugeng Riyanto, ketua tim peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta, dalam seminar bertajuk Arsitektur Kota Semarang dari Masa ke Masa di Universitas Katolik Soegijapranata, Kota Semarang, Rabu (4/11).

Selain Sugeng, bertindak selaku pembicara adalah Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan III Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Semarang M Farchan, pakar cagar budaya sekaligus anggota Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) A Kriswandhono, dan pengajar Fakultas Arsitektur dan Desain Unika Soegijapranata.

Menurut Sugeng, ekskavasi pada pertengahan 2010 nanti akan melibatkan sekitar 10-15 peneliti atau lebih banyak dibandingkan ekskavasi sebelumnya yang hanya terdiri atas lima peneliti.

"Ekskavasi tersebut akan difokuskan untuk mencari bangunan ujung benteng atau bastion pada benteng yang diperkirakan berbentuk segi lima tersebut. Kami tinggal menentukan titik penggalian, kemungkinan di lahan PT Gas Negara," kata Sugeng.

Pada akhir Mei lalu, tim peneliti hanya mendapati sisa tatanan batu bata yang diduga sebagai tembok benteng dan menemukan sedikitnya 500 artefak perkakas rumah tangga, seperti piring, mangkok, dan lainnya. Ekskavasi dila kukan di lahan parkir Bus Damri, Jalan Empu Tantular.

Berdasarkan hasil penggalian itu, tim peneliti berasumsi bahwa Kota Lama pernah dikelilingi benteng pada rentang waktu 1756-1824. Penemuan itu juga mempertegas garis imajiner yang terdapat pada Peta Belanda tahun 1800.

Dari pihak Pemkot Semarang, M Farchan mendukung adanya ekskavasi lanjutan untuk memastikan keberadaan Kota Lama. "Penemuan tersebut merupakan upaya untuk melengkapi sejarah Kota Semarang," katanya.

Farchan memastikan, pemkot akan mendampingi peneliti untuk mendapatkan izin dari pemilik lahan di kawasan tersebut. Namun, kondisi fisik lahan harus dijamin untuk dikembalikan seperti semula.

A Kriswandhono mengemukakan, banyak warga Kota Semarang yang belum mengetahui sejarah Kota Lama. Minimnya akses informasi membuat publik mengabaikan salah satu potensi wisata Kota Semarang tersebut.

Untuk itu, ekskavasi di kawasan Kota Lama diperlukan karena selama ini informasi mengenai bangunan cagar budaya tersebut hanya sebatas dari dokumen tanpa dilengkapi dengan peninggalan fisik, seperti artefak atau prasasti.

Kamis, 29 Oktober 2009

Rasulullah dan Yahudi Buta

Di satu sudut pasar kota Madinah, hidup seorang lelaki yahudi tua yang buta. Lelaki ini mengisi harinya dengan meminta-minta. Tetapi tidak hanya meminta-minta seperti pengemis lainnya, lelaki Yahudi ini juga suka berbicara pada siapa saja yang lewat atau mendekatinya. Sayangnya dia bukan bicara yang baik-baik. Lelaki ini justru berbicara sambil menghasut.

“Wahai kawan, jangan dekati Muhammad dan jangan mau didekati Muhammad. Dia itu orang gila, pembohong, dan tukang sihir. Kalau kalian dekat-dekat denganya kalian akan dipengaruhinya. Jadi hati-hatilah, jangan dekat-dekat dengan Muhammad.” Begitulah selalu si Yahudi ini akan berkata pada orang-orang di sekitarnya.

Sambil menghasut orang-orang saat meminta-minta, lelaki Yahudi ini terus saja menanti pagi hari dengan penuh harap. Sebab pada setiap hari akan dating seorang lelaki baik yang menanyakan kabarnya dengan suara lembut dan membawakannya makanan. Tak hanya itu sang lelaki dermawan ini akan menyuapinya dengan penuh kesabaran hingga sang Yahudi pun merasa kenyang.

Tentu saja sang Yahudi tak menyia-nyiakan kesempatannya menghasut. Setiap kali sang lelaki dermawan itu dating, sang Yahudi tak pernah lupa mengingatkannya untuk tidak mendekati Muhammad. Dan untuk menegaskan ucapnnya tak lupa sang Yahudi ini akan mencaci Rasulullah saw. Entah dengan sebutan orang gila, pembohong atau tukar sihir.

Suatu hari Rasulullah saw wafat. Warga Madinah berduka. Tetapi tidak demikian dengan sang lekali Yahudi. Kabar wafatnya Rasulullah justru membuatnya bahagia. Karena dia sangat membenci Rasulullah. Hanya saja herannya, sejak hari itu tak ada lagi lelaki baik dan dermawan yang biasa membawakannya makanan dan menyuapinya.

Beberapa hari setelah wafatnya Rasulullah saw, Khalifah Abubakar Siddiq ra berkunjung ke rumah anaknya yang juga istri Rasululla, Aisyah ra. Abubakara lantas bertanya pada Aisyah : “Adakah sunnah Rasulullah yang belum aku kerjakan ya Aisyah?”

Aisyah pun menjawab pertanyaan ayahnya. “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah, sungguh hamper tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja”.

“Apakah itu?” Tanya Abubakar ra.

“Selama ini setiap pagi Rasulullah saw selalu pergi ke ujung pasar sambil membawa makanan untuk seorang pemngemis Yahudi buta yang ada di sana,” jawab Aisyah ra.

Keesokan harinya Abubakar ra pun pergi ke pasar yang dikatakan Aisyah dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis Yahudi itu dan memberikan makanan itu kepadanya.

Ketika Abubakar ra mendatanginya, si pengemis bertanya keras, “Siapa kamu?’

Abubakara ra menjawab, “Aku orang yang biasa.”

“Bukan!” sergah si pengemis. “Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku.” Jawab si pengemis buta. “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang makanan.”

Abubakar kini mulai menyuapi sang pengemis. Namun pengemis itu menjadi marah dan berteriak. “Engkau bukan orang yang biasa. Kalu dia yang dating tidak pernah susah mulut tuaku ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku dengan terlebih dahulu melumatkan makanan yang dibawanya. Jadi katakan siapa dirimu dan kemana orang yang biasa menyuapiku dulu?”

Hampir saja Abubakar ra tidak mampu menjawab karena air matanya kini mengalir deras. Sambil menahan sedih karena terkenang pada Rasulullah, Abubakar pun menceritakan hal yang sebenarnya pada sang pengemis.

“Aku memang bukan orang yang biasa dating padamu. Aku hanyalah salah seorang sahabatnya. Dan sungguh, orang dermawan, baik dan mulia yang biasa mendatangimu itu sudah tiada. Dialah Rasulullah saw, yang beberapa hari lalu meninggal dunia.”

Betapa terkejutnya sang pengemis itu mendengar cerita Abubakar ra. dia pun ikut menangis dan berkata, “jadi, diakan sang Muhammad itu?. Padahal selama ini aku selalu menghinanya, memfithanya, mencacinya dan menghasut orang-orang untuk membencinya. Tetapi tak sekalipun dia membalasku atau bahkan sekedar memarahiku. Bahkan ia mendatangiku setiap hari, melumatkan makanan dan menyuapiku dengan lemah lembut. Perilakunya ternyata begitu mulia…. aku sungguh tidak menduga dialah Muhammad….”

Maka tak menunggu lama, sang pengemis Yahudi yang buta itu pun menyesali perbuatannya dan akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar ra. (Ummi)

Rabu, 21 Oktober 2009

Si Kulup Yang Durhaka

Cerita ini berasal dari Belitung. Dahulu, ada sebuah keluarga miskin bertempat tinggal di dekat sungai Cerucuk. Kehidupan keluarga tersebut sangatlah miskin. Mereka hidup dari mencari dedaunan maupun buah-buahan yang ada dalam hutan. Hasil pencariannya dijual di pasar.

Keluarga tersebut mempunyai seorang anak laki-laki bernama Si Kulup. Si Kulup senang membantu orang tuanya mencari nafkah. Mereka saling membantu. Meskipun mereka hidup berkekurangan namun tidak pernah merasa menderita

Suatu ketika, ayah si Kulup pergi ke hutan untuk mencari rebung yang masih muda. Rebung itu dijadikan sayur untuk makan bertiga. Saat menebang rebung, terlihatlah oleh ayah si Kulup sebatang tongkat berada pada rumpun bambu. Pak Kulup demikian orang menyebut ayah si Kulup mengamati tongkat tersebut. Semula tongkat itu akan dibuang, tetapi setelah diperhatikan betul dan dibersihkan ternyata tongkat itu bertabur intan permata dan merah delima.

Ia juga tetap membawanya rebung pulang, karena dari situlah mata pencahariannya sehari-hari. Pak Kulup dengan perasaan was-was dan takut membawa pulang ke rumah. Sesampai di rumah, didapatinya si Kulup sedang tiduran dan istrinya berada di rumah tetangga.

Sikulup disuruh memanggil ibunya, tapi pemuda itu tidak mau. Ia baru saja pulang mendorong kereta. Badan masih lelah. Ia tidak tahu bahwa ayahnya membawa tongkat yang bertabur intam permata.

Kap Kulup pergi menyusul istrinya yang bertandang di rumah tetangga. Pak Kulup dan Mak Kulup terlihat asyik bercerita menuju rumahnya. Sampai di rumah mereka bertiga berunding tentang tongkat yang ditemukan tadi siang.

Pak Kulup mengusulkan supaya tongkat itu disimpan saja. Mungkin nanti ada yang mencarinya. Mak Kulup menjawab “ Mau disimpan dimana…? Kita tidak punya Lemari.”

Kenudian si Kulup pun usul: “lebih baik dijual saja, supaya kita tidak repot menyimpannya.”

Akhirnya mereka bertiga bersepakat untuk menjual tongkat temuannya. Si Kulup ditugasi untuk menjual tongkat tersebut ke negeri lain. Si Kulup pergi meninggalkan desanya. Tidak lama kemudia tongkat itupun telah terjual dengan harga yang sangat mahal.

Setelah sikupu menjadi kaya, ia tidak mau pulang ke rumah orang tuanya. Ia tetap tinggal di rantauan. Kartena ia selalu berkawan dengan anak-anak saudagar kaya maka ia pun diambil menantu oleh saudagar paling kaya di negeri tersebut.

Si Kulup sudah beristri. Mereka hidup serba berlebih. Si Kulup sudah lupa akan kedua orang tuanya yang menyuruh menjual tongkat.

Setelah bertahun-tahun mereka hidup dirantau, oleh mertuanya si Kulup disuruh berniaga ke negeri lain bersama istrinya. Si Kulup lalu membeli sebuah kapal besar. Ia juga menyiapkan anak buahnya yang diajak serta berlayar. Mereka berdua minta doa restu kepada orang tuanya agar selamat dalam perjalanan dan berhasil mengembangkan dagangannya.

Mulailah mereka berlayar meninggalkan daerah perantauannya.Saat itu Si Kulup teringat kembali akan kampong halamannya. Ketika sampai di muara sungai Cerucuk mereka berlabuh. Suasana kapal sangat ramai karena suara dari binatang perbekalannya, seperti: ayam, itik, angsa dan burung.

Kedatangan si Kulup di desanya terdengar oleh kedua orang tuanya. Sangatlah rindu kedua orang tuanya, terlebih-lebih emaknya. Emaknya menyiapkan makanan kesukaan si Kulup seperti : ketupat rebus, belut panggang dan sebagainya. Kedua orang tuanya dating di kapal sambil membawa makanan kesukaan anaknya.

Sesampai di kapal kedua orang tua itumencari anaknya si Kulup. Si Kulup sudah menjadi saudagar kaya melihat kedua orang tuanya merasa malu. Maka disuirnyalah kedua orang tuanya. Buah tangan yang dibawa oleh emaknya pun dibuang.

Saudagar kaya itu marah sambil berucap: “ Pergi! Lekas Pergi.” Aku tidak punya orang tua seperti aku. Jangan kotori tempatku ini. Tidak tahu malu, mengaku diriku sebagai anakmu. Apa mungkin aku mempunyai orang tua miskin seperti kau. Enyahlah, engkau dari sini!”

Pa Kulup dan isterinya merasa terhina sekali. Mereka cepat-cepat meninggalkan kapal. Putuslah harapannya bertemu dan mendekap anak untuk melepas rindu. Yang mereka terima hanyalah umpatan caci maki dari anak kandungnya sendiri.

Setibanya di darat, emak si Kulup tidak dapat menahan amarahnya. Ia benar-benar terpukul hatinya melihat peristiwa tadi. Ia berucap:”Kalau saudara itu benar-benar anakku si Kulup dan kini tidak mau mengaku kami sebagai orang tuanya, mudah-mudahan kapal besar itu karam.”

Selesai berucap demikian itu, ayah dan emak si Kulup pulang ke rumahnya dengan rasa kecewa. Tidak berapa lama terjadi suatu keanehan yang luar biasa, tiba-tiba gelombang laut sangat tinggi menerjang kapal saudagar akaya. Mula-mula kapal itu oleng ke kanan dan ke kiri, menimbulkan ketakutan luar biasa pada penumpangnya. Akhirnya kapal itu terbalik,semua penumpangnya tewas seketika.

Beberapa hari kemudian di tempat karamnya kapal besar itu, muncullah sebuah pulau yang menyerupai kapal. Pada waktu-waktu tertentu terdengar suara binatang bawaan saudagar kaya. Maka hingga sekarang pulau itu di namakan Pulau kapal.

Rabu, 07 Oktober 2009

Kudus, Bagian Dari Sejarah Perkembangan Islam di Jawa


NAMA aslinya Sayyid Ja'far Shodiq. Namun lebih dikenal sebagai Sunan Kudus. Sementara yang lebih sering disebut Sunan Muria aslinya bernama Raden Umar Said.
Paling mudah dikunjungi adalah makam Sunan Kudus yang lokasinya berada di kota tersebut. Sementara makam Sunan Muria berada di daerah pegunungan Muria, di sisi utara kotaDari ibukota Pro­vinsi Jawa Tengah, Semarang, Kudus berada di sisi timur sejauh sekitar 40 kilometer. Dengan transportasi umum hanya perlu waktu sekitar satu jam.

Tidak sulit menemukan makam Sunan Kudus karena berada dalam satu kompleks de­ngan ikon kota tersebut yaitu Menara Kudus dan Masjid Al Aqsa. Kompleks itu sendiri hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer ke arah barat Alun-Alun Simpang Tujuh kota. Secara administratif berada di wilayah Kelurahan Kauman, Kecamatan Kota.

Yang terlihat menonjol dari kompleks itu adalah Menara Kudus yang tingginya sekitar 18 meter. Bentuk uniknya yang merupakan perpaduan budaya Hindu dan Islam langsung menarik perhatian.

Tersusun dari batu bata merah layaknya candi Hindu bangunan dengan dasar sepuluh meter persegi itu berfungsi sebagai menara masjid. Berdasarkan catatan sejarah, menara itu dibangun sekitar tahun 1687 Masehi.

Pengaruh Hindu terlihat pada proses pem­bangunannya. Konon batu-batu itu disusun tanpa perekat. Hanya sekadar saling digosok dan kemudian ditempel sehingga tidak tersedia ruang bagi udara.

Ciri lain yang menunjukkan pengaruh Hindu adalah adanya selasar di kaki menara, yang dalam juga biasa ditemukan pada candi-candi Hindu dan disebut pradaksinapatta.

Tepat di samping Me­nara, terletak ba­ngu­nan Masjid Al Aqsa. Catatan sejarah menunjukkan pembangunan masjid tersebut sekitar tahun 956 Hijriah atau 1549 Masehi. Yang unik dari masjid tersebut adalah gapura kembar yang berada di serambi masjid dan di dalam masjid. Konon gapura itu adalah benteng kewalian Sunan Kudus.

Di kedua sisi masjid terdapat masing-masing delapan pancuran untuk berwudu. Pancuran itu adalah bagian bersejarah dari masjid tersebut, karena dibangun dengan teknik konstruksi layaknya membangun candi Hindu. Berbahan batu bata merah dan disusun tanpa perekat.

Kini, masjid seluas 1.723,8 meter persegi itu menjadi salah satu pusat pendidikan Islam. Setiap hari, puluhan santri menghafal Alquran dan bertadarrus di masjid tersebut.

Khusus pada bulan Ramadan, seusai jamaah Salat Subuh diadakan pengajian tafsir Alquran oleh KH Sya'roni Ahmadi, salah satu kyai sepuh di Kudus. Ribuan warga kota Kudus berbondong-bondong mengikuti pengajian tersebut. Sumber: Jawapos.com (detikpos)

Mumi Raja Mesir Berusia 3000 Tahun


Wajah penguasa Mesir kuno paling terkenal, Raja King Tutankhamun dipamerkan untuk umum pertama kalinya. Mumi ini berusia hampir 3.000 tahun lebih..woww!!

Kalangan arkeolog mengambil mumi itu dari sarcophagus dan menyimpannya di sebuah peti dengan pengaturan suhu di makamnya di Lembah Para Raja Luxor. Peristiwa itu terjadi 85 tahun setelah makam Firaun ditemukan oleh petualang Inggris Howard Carter. Sampai sekarang, hanya 50 orang yang pernah melihat wajah raja bocah yang meninggal lebih dari 3000 tahun lalu. Saat para pakar itu mengangkat Tutankhamun dari peti jenazahnya mereka menyingkirkan kain putih yang menutupi dia, muncullah wajah berwarna hitam dan tubuhnya.
Langkah itu dilakukan sebagai bagian dari cara melindungi jenazah dia. Arkeolog menyatakan jenazah itu terancam karena panas dan kelembaban di dalam makam itu karena sejumlah besar turis yang berkunjung setiap tahun. "Golden boy itu memiliki keajaiban dan misteri, oleh karena itu setiap orang dari seluruh dunia datang ke Mesir untuk melihat apa yang dilakukan untuk melindungi golden boy dan semuanya saya yakin datang untuk menyaksikan golden boy," ujar Kepala Bidang Peninggalan Mesir Zahi Hawass sebelum jenazahnya dipindahkan. Topeng emas Tutankhamun dicopot dengan pisau panas dan kabel Tutankhamun berkuasa di Mesir 1333 sampai 1324 SM dan diyakini naik tahta dalam usia sekitar 9 tahun. Meskipun semasa hidupnya tidak memiliki sejarah yang menentukan, kematian Tutankhamun mendapat perhatian dunia karena makamnya dalam kedaan utuh ketika dibuka oleh Carter tahun 1922. Makamnya berisi harta karun emas dan kayu hitam indah yang dianggap mewah ketika Carter melihat kedalam makam itu. Ditanya apa yang dia saksikan, jawabannya yang terkenal "Ya, sesuatu yang mengagumkan."
Penyebab kematian Karya agung makam itu adalah jenazah firaun yang dibuat mumi, ditutupi jimat dan perhiasan serta mengenakan topeng emas. Dalam upaya mengambil harta karun itu, Carter dan timnya memotong jenazah itu kedalam beberapa bagian, memenggal lengan dan kepalanya dan menggunakan pisau panas dan kabel untuk menyingkirkan topeng emas yang direkat ke wajah Tutankhamun dengan proses pembalseman. Tahun 2005 kalangan ilmuwan merekontruksi Tutankhamun Tubuhnya direkonstruksi dan dikembalikan ke sarcophagus aslinya tahun 1926. Kemudian pernah dibawa keluar untuk pengujian sinar X tiga kali dalam beberapa tahun berikutnya. Harta karun yang diambil memikat dunia dan menarik jutaan orang datang ke Lembah Para Raja. Pertanyaan mengenap mengapa Tutankhamun meninggal sekitar usia 19 tahun dan gosip adanya kutukan yang membuat meninggal mereka yang terlibat penggalian makamnya makin membuat terkenal firaun.

Ketika tubuhnya diperiksa sinar X tahun 1968, terdapat patahan tulang di tengkoraknya yang mendorong spekulasi bahwa dia dibunuh dengan pukulan. Sejumlah sejarawan berpendapat bahwa dia dibunuh karena berupaya mengembalikan politeisme setelah menggantikan Akhenaten yang meninggalkan dewa-dewa emas Mesir untuk monoteisme. Namun pemeriksaan scan jenazahnya tahun 2005 membuat para peneliti menyatakan dia tidak dibunuh dan mungkin meninggal karena komplikasi tulang kaki yang retak. Kepala bidang peninggalan Mesir Zahi Hawass mengatakan penelitian menunjukkan raja bocah ini meninggal setelah luka karena infeksi meskipun tidak semua tim setuju dengan diagnosa itu namun semua menolak dugaan pembunuhan.(gambargambaraneh)

Jumat, 02 Oktober 2009

Setelah Gempa, Air Sempat Muncul dari Tanah


PADANG, KOMPAS.com — Kepanikan akan datangnya tsunami bukan hanya muncul karena guncangan gempa yang kuat, melainkan karena sejumlah saksi mata juga menyaksikan air keluar dari tanah beberapa menit setelah gempa terjadi. Mereka mengira luberan air itu adalah awal tsunami.
Warga Kota Padang, Linda, mengaku melihat air keluar dari tanah di halaman rumahnya. Khawatir akan terjadi tsunami, apalagi rumahnya hanya berjarak satu kilometer dari pantai Padang, dia pun mengungsi ke sebuah rumah sakit.

Sementara itu, Eri, warga Tiku, Kabupaten Agam, atau berjarak 100 kilometer dari Padang, mengaku juga melihat air keluar dari tanah. Eri yang tempat tinggalnya juga berjarak kurang dari satu kilometer dari pantai itu pun ketakutan dan mengungsi ke perbukitan di dekat kampungnya.

Pusat Peringatan Tsunami Pasifik sebelumnya juga melansir kemungkinan tsunami melanda Padang dan sekitarnya dalam waktu beberapa menit setelah gempa. Namun, setelah setengah jam, tak ada laporan tsunami muncul di Padang dan sekitarnya.

Gempa 7,6 skala Richter yang menggoncang pesisir barat Sumatera terasa sangat kuat. Warga yang menetap di pesisir memilih mengungsi ke arah bukit-bukit karena ketakutan ada tsunami.

Di Maninjau, Agam, sebuah bukit longsor. Seorang warga bernama Hafiz mengaku melihat langsung kejadian mengerikan itu. Sejumlah rumah diduga tertimbun longsor.

Pergerakan tanah itu terjadi, kata Hafiz, tak lama setelah gempa. Maninjau merupakan lembah yang dikelilingi pegunungan. Di tengah-tengah terdapat danau yang merupakan daya tarik wisata utama di Sumatera Barat setelah Bukittinggi. (viv)


Sabtu, 26 September 2009

Sejarah Jakarta: Periode Fatahillah Hilang


SEBELUM Batavia berdiri, di bawah tanahnya pernah ada sebuah kota bernama Jayakarta. Lokasinya sekarang kira-kira di daerah The Batavia Hotel hingga ke Jalan Kopi. Karena Sunda Kalapa dulu itu lokasinya kini ada di sekitaran Kalibesar Barat. Kisah tentang Jakarta tak akan bisa lepas dari keberadaan Fatahillah yang pada tahun 1527 berhasil mengenyahkan Pajajaran dan Portugis. Pada tahun itu pula, ia merebut Sunda Kalapa dan mengganti namanya menjadi Jayakarta.


Di tahun 1619 VOC yang dipimpin oleh JP Coen menaklukkan Jayakarta dan membakar kota itu untuk kemudian mendirikan Batavia.

Nugroho Notosusanto dalam sebuah tulisan yang terbit dalam Ketoprak Betawi menulis, tanggal 21 Agustus 1522 Pajajaran dan Portugis membuat perjanjian, di mana Portugis, melalui Fransisco de Sa, diizinkan membangun sebuah benteng di Sunda Kalapa. Pada 1526 de Sa mendapat tugas menggempur Bintan dan dari sana ia mengarah ke selatan hingga bertemu Fatahillah dan kalah.

Lantas siapa itu Fatahillah? Ia berasal dari Pasai dan melarikan diri saat kota itu direbut Portugis. Fatahillah pun mengembara ke Demak. Dari Demak ia tiba di Jawa Barat dan bertemu de Sa di Sunda Kalapa. Bertempur, menang, dan tinggal sebentar di Jayakarta untuk kemudian pergi ke Cirebon dan menetap di sana. Kekuasaan diserahkan kepada Tubagus Angke. Siapa dia, sejarah tak terlalu banyak menyebut siapa Tubagus Angke ini. Dalam penelitian Dinas Museum dan Sejarah tahun 1994 disebutkan, Tubagus Angke masih kemenakan Maulana Bagdad atau Maulana Abdurahman (dalam Babad Banten).

Tubagus Angke dikatakan memiliki putra yang kemudian melanjutkan kekuasaan di Jayakarta. Nama sang putra adalah Pangeran Jakarta Wijayakrama. Pangeran Wijayakrama inilah yang kemudian takluk pada pasukan VOC di bawah JP Coen. Coen kemudian membakar kota Jayakarta dan membangun Batavia di atas reruntuhannya.

Pangeran Jakarta Wijayakrama diperkirakan mulai memerintah pada 1596 karena dalam salah satu sumber Belanda disebutkan, raja Jayakarta di kala itu sudah tua – maksudnya Tubagus Angke. Di seputaran waktu itu diperkirakan kekuasaan sudah diserahkan kepada Pangeran Jakarta.

Pada 1610 Wijayakrama membuat perjanjian dengan Pieter Both, gubernur jenderal, yang isinya antara lain, orang Belanda yang datang ke Jayakarta boleh berdagang; orang Belanda boleh membangun loji untuk tempat dagangan mereka; orang Belanda boleh mengambil kayu dari pulau-pulau untuk membuat kapal; cukai barang diserahkan ke Raja Jakarta.Namun lama kelamaan hubungan itu makin tak harmonis hingga tiba JP Coen di Jayakarta. Perselisihan itu berbuntut perang pada 1618 dan akhirnya pada 1619 Jayakarta berhasil direbut Coen.Kisah tersebut di atas agak sulit didapat, kalaupun ada, informasinya berbeda dengan bahasa yang tak teratur, pula. Demikian pula informasi tentang bagaimana wajah Fatahillah, misalnya.Terlebih lagi di Museum Sejarah Jakarta (MSJ), yang memamerkan sejarah Jakarta sejak masa pra sejarah hingga masa kolonial, ternyata tak ditemukan periode Jayakarta semasa Fatahillah. Periode itu sepertinya hilang sehingga cerita melompat dari zaman pra sejarah, Hindu, langsung Batavia di bawah JP Coen (kolonial). Tak lengkap bicara sejarah Jakarta tanpa menyebut Fatahillah. Periode sekitar satu abad hilang. Padahal inti sejarah Jakarta adalah dimulainya Jayakarta sebagai embrio Jakarta.

Tugas melengkapi periode Fatahillah itu tak sebatas tugas MSJ tapi juga dinas, dalam hal ini dinas kebudayaan yang kini berbagi peran dengan dinas pariwisata. Keberadaan bidang pengkajian dan pengembangan sejak masa Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI sejatinya antara lain bertugas menutupi bolongnya periode sejarah itu.

Barangkali di HUT ke-482 Jakarta ini lantas ada greget dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI, khususnya bidang kebudayaan, untuk segera merapatkan diri, merancang program, membenahi apa yang dirasa kurang dan melenceng, termasuk menggali potensi budaya asli Jakarta. Pasalnya, sejak penggabungan dua dinas, pariwisata dan kebudayaan, rasanya bidang kebudayaan berjalan bagai tanpa pegangan, tanpa induk. Kalau boleh lebih gamblang, seperti tak punya arah yang jelas, yaitu sebuah program besar yang disinerjikan dengan seluruh bidang termasuk pariwisata. Sumber: Warta Kota (detikpos.net)

Jumat, 25 September 2009

Bangkai Kapal AS Zaman PD II Ditemukan


North Carolina: Bangkai kapal patroli laut AS pada masa Perang Dunia II ditemukan di perairan Cape Hatteras, North Carolina, AS, Kamis (10/9) waktu setempat. Kapal bernama YP-389 ini tenggelam di kedalaman 300 meter di kawasan Kuburan Atlantik, tempat tenggelamnya sejumlah kapal AS, Inggris, dan Jerman pada Pertempuran Atlantik.
The National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mengatakan beberapa bagian YP-389 masih terpasang dengan baik di alas kapal. Sementara bagian lambung kapal hampir seluruhnya menghilang. “Dia beristirahat dengan tenang dan mengingatkan kita akan kenangan ketika negara ini dilanda perang,” ucap Joseph Hoyt, arkeolog proyek penggalian YP-389 saat diliput Livescience.

Terlahir sebagai kapal penangkap ikan, YP-389 diubah menjadi kapal patroli pantai dan disulap menjadi kapal perang untuk melawan Jepang pada peristiwa Pearl Harbor. Kapal ini dilengkapi dengan senjata untuk menembaki pesawat tempur dan juga kapal selam. Pada 1942, enam pelaut YP-389 tewas setelah diserang kapal selam Jerman.

Cerita YP-389 ini mewakili karakter pada Pertempuran Atlantik, saat sejumlah kapal penangkap ikan dituntut untuk mempertahankan wilayah AS dari kekuatan kapal tempur Jerman. Cerita ini merupakan salah satu cerita paling dramatis pada masa suram Perang Dunia II.(DIO)sumber:liputan6 (coexindie)

Award Iduyl Fitri dari Kiyai Ceret

Catatan Kecil Ku

Award ini Raja Salahuddin diberikan oleh sahabatku tercinta Kiyai Ceret yang juga diperoleh dari sobat DONNY yang meneruskan award yang diberikan oleh sobat RIZKI pada bulan Syawal 1430 Hijriyyah ini.
Sebagaimana kita ketahui beberapa hari lagi semua umat islam di indonesia dan seluruh dunia akan merayakan hari kemenangan, yaitu hari dimana para Sho'imin kembali kepada keadaan Fithrah [Titik Nol] tak bernoda tak berdosa seperti bayi yang baru lahir, lulus dari Pendidikan dan Latihan sebulan lamanya menggembleng atau mengendalikan Syahwat atau Al Hawaa [keinginan].

Dalam hubungan dengan sesama insan khususnya dalam kegiatan blogging ini
mungkin ada aksara yang membuat luka
mungkin ada janji yang terlupa
mungkin ada canda yang membawa petaka hati
Meski tanpa muwajjahah atau tatap muka mari kita saling hapus salah dan Khilaf.
Mohon maaf lahir bathin
MINAL A'IDIN WAL FA'IZIN
TAQOBBALALLAAHU MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YAA KARIIM

Award ini saya berikan kepada :
1. Annisa Collection
2. NURANURANIKU
3. jadikanhariinilebihbaiklagi
4. Belajar Agama
5. Dilarang Melarang


silahkan copypaste code ini:



LINK SOBAT YANG SALING BERMA'AFAN :

1. RISKI
2. DONNY
3. LORA AMIR HUSIN
4. Raja Salahuddin
5. masukkan nama dan linknya
6. dan seterusnya

Cara penggunaannya:

1. Cara penggunaannya cukup simpel yang perlu teman-teman lakukan setelah menerima Award ini adalah akan lebih baik lagi jika tidak ada hapus menghapus biarkan nama-nama tersebut di atas atau yang telah tertulis sebelumnya tetap ada.
2. Apabila sudah mencapai 5 nama maka ke 5 nama tersebut tidak usah di masukan link URL nya biarkan namanya saja tidak perlu di hapus (bagi penerima ke 6).
3. Dan pada nama ke 6 sampai ke 10 masukan Link URL nya. dan begitu juga seterusnya. cukup 20 NAMA BLOGGER saja yang ada Link URL nya.i penerima ke 11).
4. Setiap penerima harus memasukkan nama dan link urlnya.

Terima kasih semoga Award ini dapat di terima oleh Sobat blogger sebagai media silaturrahim .



Kamis, 24 September 2009

Sejarah Syeh Magellung Sakti

Syekh Magelung Sakti alias Syarif Syam alias Pangeran Soka alias Pangeran Karangkendal. Konon Syekh Magelung Sakti berasal dari negeri Syam (Syria), hingga kemudian dikenal sebagai Syarif Syam. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa ia berasal dari negeri Yaman.

Syarif Syam memiliki rambut yang sangat panjang, rambutnya sendiri panjangnya hingga menyentuh tanah, oleh karenanya ia lebih sering mengikat rambutnya (gelung). Sehingga kemudian ia lebih dikenal sebagai Syekh Magelung (Syekh dengan rambut yang tergelung).

Mengapa ia memiliki rambut yang sangat panjang ialah karena rambutnya tidak bisa dipotong dengan apapun dan oleh siapapun. Karenanya, kemudian ia berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari siapa yang sanggup untuk memotong rambut panjangnya itu. Jika ia berhasil menemukannya, orang tersebut akan diangkat sebagai gurunya. Hingga akhirnya ia tiba di Tanah Jawa, tepatnya di Cirebon.

Pada sekitar abad XV di Karangkendal hidup seorang yang bernama Ki Tarsiman atau Ki Krayunan atau Ki Gede Karangkendal, bahkan disebut pula dengan julukan Buyut Selawe, karena mempunyai 25 anak dari istrinya bernama Nyi Sekar. Diduga, mereka itulah orang tua angkat Syarif Syam di Cirebon.

Konon, Syarif Syam datang di pantai utara Cirebon mencari seorang guru seperti yang pernah ditunjukkan dalam tabirnya, yaitu salah seorang waliyullah di Cirebon. Dan di sinilah ia bertemu dengan seorang tua yang sanggup dengan mudahnya memotong rambut panjangnya itu. Orang itu tak lain adalah Sunan Gunung Jati. Syarif Syam pun dengan gembira kemudian menjadi murid dari Sunan Gunung Jati, dan namanya pun berubah menjadi Pangeran Soka (asal kata suka). Tempat dimana rambut Syarif Syam berhasil dipotong kemudian diberinama Karanggetas.

Setelah berguru kepada Sunan Gunung Jati di Cirebon, Syarif Syam alias Syekh Magelung Sakti diberi tugas mengembangkan ajaran Islam di wilayah utara. Ia pun kemudian tinggal di Karangkendal, Kapetakan, sekitar 19 km sebelah utara Cirebon, hingga kemudian wafat dan dimakamkan di sana hingga kemudian ia lebih dikenal sebagai Pangeran Karangkendal.

Sesuai cerita yang berkembang di tengah masyarakat atau orang-orang tua tempo dulu, pada masa lalu Syekh Magelung Sakti menundukkan Ki Gede Tersana dari Kertasemaya, Indramayu, sehingga anak buah Ki Tarsana tersebut yang berupa makhluk halus pun turut takluk. Namun, makhluk gaib melalui Ki Tersana meminta syarat agar setiap tahunnya diberi makan berupa sesajen rujak wuni. Dari cerita inilah selanjutnya, tradisi menyerahkan sesajen daging mentah tersebut berlangsung setiap tahun di Karangkendal.

Sosok Syekh Magelung Sakti tidak dapat dilepaskan dari Nyi Mas Gandasari, yang kemudian menjadi istri beliau. Pertemuan keduanya terjadi saat Syekh Magelung Sakti yang di kenal juga sebagai Pangeran Soka, ditugaskan untuk berkeliling ke arah barat Cirebon. Pada saat ia baru saja selesai mempelajari tasawuf dari Sunan Gunung Jati, dan mendengar berita tentang sayembara Nyi Mas Gandasari yang sedang mencari pasangan hidupnya.

Babad Cerbon juga tidak jelas menyebutkan siapakah yang dimaksud sebagai putri Mesir itu. Namun, menurut masyarakat di sekitar makam Nyi Mas Gandasari di Panguragan, dipercaya bahwa Nyi Mas Gandasari berasal dari Aceh, adik dari Tubagus Pasei atau Fatahillah, putri dari Mahdar Ibrahim bin Abdul Ghafur bin Barkah Zainal Alim. Ia diajak serta oleh Ki Ageng Selapandan sejak kecil dan diangkat sebagai anak, saat sepulangnya menunaikan ibadah haji ke Makkah.

Versi lain menyebutkan bahwa Nyi Mas Gandasari, yang sebenarnya adalah putri Sultan Hud dari Kesultanan Basem Paseh (berdarah Timur Tengah), merupakan salah satu murid di pesantren Islam putri yang didirikan oleh Ki Ageng Selapandan.

Konon, karena kecantikan dan kepandaiannya dalam ilmu bela diri, telah berhasil menipu pangeran dari Rajagaluh, sebuah negara bawahan dari kerajaan Hindu Galuh-Pajajaran (yang kemudian menjadi raja dan bernama Prabu Cakraningrat). Pada waktu itu, Cakraningrat tertarik untuk menjadikannya sebagai istri. Tak segan-segan ia pun diajaknya berkeliling ke seluruh pelosok isi kerajaan, bahkan sampai dengan ke tempat-tempat yang amat rahasia. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Pangeran Cakrabuana, orang tua angkat Nyi Mas Gandasari untuk kemudian menyerang Rajagaluh.

Ki Ageng Selapandan yang juga adalah Ki Kuwu Cirebon waktu itu dikenal juga dengan sebutan Pangeran Cakrabuana (masih keturunan Prabu Siliwangi dari Kerajaan Hindu Pajajaran), berkeinginan agar anak angkatnya, Nyi Mas Gandasari, segera menikah. Setelah meminta nasihat Sunan Gunung Jati, gurunya, keinginan ayahnya tersebut disetujui Putri Selapandan dengan syarat calon suaminya harus pria yang memiliki ilmu lebih dari dirinya.

Meskipun telah banyak yang meminangnya, ia tidak bisa menerimanya begitu saja dengan berbagai macam alasan dan pertimbangan. Oleh karenanya kemudian ia pun mengadakan sayembara untuk maksud tersebut, sejumlah pangeran, pendekar, maupun rakyat biasa dipersilakan berupaya menjajal kemampuan kesaktian sang putri. Siapapun yang sanggup mengalahkannya dalam ilmu bela diri maka itulah jodohnya. Banyak diantaranya pangeran dan ksatria yang mencoba mengikutinya tetapi tidak ada satu pun yang berhasil. Seperti Ki Pekik, Ki Gede Pekandangan, Ki Gede Kapringan serta pendatang dari negeri Cina, Ki Dampu Awang atau Kyai Jangkar berhasil dikalahkannya.

Hingga akhirnya Pangeran Soka memasuki arena sayembara. Meskipun keduanya tampak imbang, namun karena faktor kelelahan Nyi Mas Gandasari pun akhirnya menyerah dan kemudian berlindung di balik Sunan Gunung Jati.

Namun, Pangeran Soka terus menyerangnya dan mencoba menyerang Nyi Mas Gandasari dan hampir saja mengenai kepala Sunan Gunung Jati. Tetapi sebelum tangan Pangeran Soka menyentuh Sunan Gunung Jati, Pangeran Soka menjadi lemas tak berdaya. Sunan Gunung Jati pun kemudian membantunya dan menyatakan bahwa tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Namun, kemudian keduanya dinikahkan oleh Sunan Gunung Jati.

Selain berjasa dalam syiar Islam di Cirebon dan sekitarnya, Syarif Sam dikenal sebagai tokoh ulama yang mempunyai ilmu kanuragan tinggi pada zamannya. Ia membangun semacam pesanggrahan yang dijadikan sebagai tempat ia melakukan syiar Islam dan mempunyai banyak pengikut. Sampai dengan akhir hayatnya, Syekh Magelung Sakti dimakamkan di Karangkendal, dan sampai sekarang tempat tersebut selalu diziarahi orang dari berbagai daerah.

Di situs makam Syekh Magelung Sakti terdapat sumur peninggalan tokoh ulama tersebut, padasan kramat, depok (semacam pendopo) Karangkendal, jramba, kroya, pegagan, dukuh, depok Ki Buyut Tersana, dan pedaleman yang berisi pesekaran, paseban, serta makam Syekh Magelung Sakti sendiri.

Berjauhan dengan makam suaminya Syekh Magelung Sakti, makam Nyi Mas Gandasari terdapat di Panguragan, sehingga ia kemudian dikenal juga sebagai Nyi Mas Panguragan.(Lare Graze)

Senin, 21 September 2009

Ucapan selamat idul fitri untuk sahabat blogger


Assalamu'alaikum wr. wb.
Selama sebulan penuh di bulan Rahamdhon ummat Islam melakukan puasa untuk mendapatkan derajat yang tinggi yaitu Taqwa. Namun mendapatkan tingkat tersebut bukanlah suatu perkara yang mudah, butuh perjuangan dan kesabaran yang tinngi. Tidak semua ummat yang berpuasa dapat mencapainya kecuali orang-orang yang tabah dan sabar serta mendapat bimbingan dari Allah SWT. Salah satu tanda bahwa seseorang telah berhasil dalam puasanya adalah adanya perubahan sikap dan tingkat laku serta keihklasan dalam beribadah yang selalu menambah frekwensi ibadah sehari-hari.
Bagi mereka yang telah berhasil, Keluarga
Engkong Jaya,
Raja Salahuddin dan
Pengembangan Jiwa
mengucapkan minal 'aidin wal faidzin taqobbalallahu minna wa minkum mohon maaf lahir bathin semoga Allah SWT mengampuni dosa kita semua. dan Kami berharap semoga:
1- kita menjadi suci seperti bayi yang baru dilahirkan,
2- bertambah kekuatan iman dan ketakwaan kita,
3- kita selalu sehat wal afiat agar dapat beribadah dan mencari nafkah & berkahNya,
4- selalu mendapatkan rezeki yang banyak, berkah dan halal,
5- kita sukses dalam blogging untuk kepentingan persaudaraan, siar kebenaran serta berusaha mencerdaskan kehidupan bangsa dengan berbagi ilmu kepada sesama.

Kepada para sahabat blogger yang kami cintai: Salam semangat, teruskan blogging, terbar ilmu, sayangi sesama, raih kesuksesan dan dapatkan rezeki yang berkah.

Bagi siapa saja sahabat blogger yang ambil kartu ucapan ini silahkan ambil bennernya.








Jumat, 11 September 2009

Award dari sahabat "Menjadi Lebih Baik"


Saya sudah agak lama dapat award dari sahabat MenjadinLebih Baik namun baru kali ini saya dapat mengambil dan memasang di blog Raja Salahuddin, saya berharap mudah-mudahan yang memberi award ini tidak kecewa. Award ini adalah suatu kebanggaan bagi saya semoga ini bisa menambah eratnya persaudaraan blogger. Sesuai dengan permintaan pemberinya award ini juga akan diberikan kepada sahabat bloggerbyang lain.

Bagi siapa saja yang menerima award ini diharuskan untuk membagikan kembali award ini kepada sepuluh orang temannya. Dan selanjutnya si penerima award harus meletakkan link-link berikut ini di blog atau artikel sahabat :

1.Rizky
2.kupu.miss.oemang
3.shulayman
4.Imenoreh
5.Kluwan Love is Beauty
6.satriacell
7.eMoMySelf
8.Ikhsan
9.Menjadi Lebih baik
10.Raja Salahuddin
Namun sebelumnya saya minta maaf karena ada yang tidak bisa saya link, ini dikarenakan informasi yang saya dapatkan dari sobat ikhsan hanyalah terbatas seperti itu.
Langsung saja saya bahas aturannya : Sebelum sobat meletakkan link di atas, sobat harus menghapus peserta nomor 1 dari daftar. Sehingga semua peserta naik 1 level. Yang tadi nomor 2 jadi nomor 1, nomor 3 jadi 2, dst. Kemudian masukkan link sobat sendiri di bagian paling bawah (nomor 10). Tapi ingat ya, sobat semua harus fair dalam menjalankannya. Jika tiap penerima award mampu memberikan award ini kepada 5 orang saja dan mereka semua mengerjakannya , maka jumlah backlink yang akan didapat adalah,
Ketika posisi kawan 10, jumlah backlink = 1
Posisi 9, jml backlink = 5
Posisi 8, jml backlink = 25
Posisi 7, jml backlink = 125
Posisi 6, jml backlink = 625
Posisi 5, jml backlink = 3,125
Posisi 4, jml backlink = 15,625
Posisi 3, jml backlink = 78,125
Posisi 2, jml backlink = 390,625
Posisi 1, jml backlink = 1,953,125
Dan semuanya menggunakan kata kunci yang sobat inginkan. Dari sisi SEO sobat sudah mendapatkan 1,953,125 backlink dan efek sampingnya jika pengunjung web para downline sobat mengklik link itu, sobat juga telah mendapatkan traffik tambahan.
Sekarang silahkan copy paste saja dan hilangkan peserta nomor 1 lalu tambahkan link blog/website kawan di posisi 10. Ingat, sobat harus mulai dari posisi 10 agar hasilnya maksimal. Karena jika sobat tiba2 di posisi 1, maka link sobat akan hilang begitu ada yang masuk ke posisi 10.”
Demikian mungkin aturan main yang harus diterapkan bagi sobat blogger yang menerima award dan yang jauh lebih pengalaman dibandingkan dengan saya. Langsung saja kali ini saya berikan award kepada :
1. Bunga Yang Harum Dan Sempurna
2. Borneo-Calligraphy
3. Han-Schatzi
4. Jagania Karomu
5. Nopie's Corner
6. Arsipan Berita
7. Jalani Hidup Apa Adanya
8. Catatan Kecilku
9. Aira Pribumi
10.Dwi Susilo
Selamat kepada seluruh sobat penerima award, semoga kita bisa terus saling bersilaturrahmi antar sesama blogger. Kepada sobat yang telah mengambil awardnya mohon agar mengkonfirmasi pada buku tamu atau pada kotak komentar, Terima Kasih.


Jumat, 04 September 2009

Award ke II dari sahabat


Alhamdulilah bisa dapet award lagi, dari Sobat Kiyai Ceret, dan Jadikan Hari ini Lebih Baik Lagi terima kasih saya ucapkan kepada sobat berdua.

Di dunia blogger kita dapetkann banyak hal, persahabatan yang hebat dan kuat. Saling mendukung dan support demi hal yang lebih baik. Semangat pantang menyerah dan terus terpacu melihat perkembangan. Semua itu akan lebih mudah dengan adanya sahabat.....

Dan saya copy aja di bawah ini:

Di bulan mulia ini saya mencoba berbagi award kepada semua rekan blogger yang aktif dan berpartisipasi di blog ini, tujuan saya adalah menyatukan para bloger mania di Indonesia dengan satu bahasa : Persatuan, semoga award ini bisa diterima oleh sobat-sobat semua dimanapun.

Award diatas mengandung arti :
Tugu Hijau : melambangkan sobat-sobat baru
Tugu Kuning : melambangkan sobat-sobat yang selalu aktif
Tugu Biru : melambangkan sobat blogger dengan PR tinggi
Landasan Merah : melambangkan bahwa kita semua sama, baik pemula hingga senior adalah terangkum dalam satu wadah/tempat, dengan darah yang sama berwarna merah, dan sesungguhnya kita adalah saudara.

Prasyarat Pengambilan AWARD :

1. Buat Posting seperti diatas
2. Cantumkan Link Pemberi Award.
3. Bagi rekan-rekan yang belum jadi Follow atau Tukeran Link, harap menjadi Follow atau bertukar link dengan saya.
4. Copy-paste Image diatas atau DOWNLOAD



Berikut Nama-nama Penerima AWARD :

1. Rahmatan Lil Alamin
2. Annisa Collection
3. Mari Belajar Agama
4. Jatger
5. Love is Beauty
6. Ebook You Always Want
7. borneo-calligraphy
8. Pengembangan Jiwa
9. Arsipanberita
10. Jalani Hidup Apa Adanya


Seagai bukti perdsahabatan. Diambil ya..... Salam dari ku


Kamis, 03 September 2009

Qiblatayn: Masjid dengan Dua Kiblat



Bangunan fisiknya telah mengalami renovasi berkali-kali. Sehingga masjid sakral bernilai sejarah itu semakin indah dengan arsitektur Islam-nya yang sangat kental.


Kekhusyu’an tampak menyelimuti suasana shalat berjama’ah yang diimami langsung oleh Rasulullah, rakaat demi rakaat. Namun tatkala sampai pada rakaat kedua, tiba-tiba belia membalikkan badanya hingga 80 derajat ke arah selatan dan melanjutkan shalatnya. Para makmum, walau merasa keheranan, mengikuti perpindahan arah shalat.

Sepenggal kisah itu terdapat dalam sebuah hadits yang menjelaskan perpindahan arah kiblat pada bulan Rajab 12 H/633 M silam ketika Rasulullah sedang melaksanakan shalat Zhuhur di Masjid Bani Salamah di Quba dalam perjalanan hijrah ke Madinah.

Kiblat, yang kala itu menghadap ke utara (Palestina, tepat Masjidil Aqsha berediri), berpindah ke arah selatan (menghadap ke Masjidil Haram, di Makkah). Sebagaimana diabadikan dalam QS Al-Baqarah ayat 144, yang memerintahkan mengubah arah kiblat dari Baitul Maqdis di Palestina, setelah kurang lebih selama 17 bulan 13 hari umat Islam shalat menghadap ke sana, berpindah ke Ka'bah, di Masjidil Haram, Makkah.

Masjid yang kini terletak di atas sebuah bukit kecil utara Harrah, persis di tepi jalan menuju Kampus Universitas Madinah, itu dinamakan Masjid Qiblatayn, yang berarti “dua kiblat”.

Bangunan fisiknya telah mengalami renovasi berkali-kali. Al-Syuja’i Syahin Al-Jamaly, pada tahun 893 H/ 1487 M untuk yang pertama kali merenovasinya. Kemudian kembali disempurnakan oleh Sultan Sulaiman,pada tahun 950 H/ 1543 M, tanpa menghilangkan ciri khas masjid. Sehingga masjid sakral bernilai sejarah itu semakin indah dengan arsitektur Islam-nya yang sangat kental.


Pada pemugaran-pemugaran terdahulu, tanda kiblat pertama masih jelas terlihat dengan petunjuk yang tertera kaligrafi QS Al-Baqarah, ayat 144, lengkap dengan pelarangan shalat menghadap atau menggunakan kiblat lama. Sayang, setelah mengalami perluasan bangunan pada masa Kerajaan Arab Saudi, pentunjuk itu dihilangkan.

Di sebelah Masjid Qiblatayn ada telaga Sumur Raumah, sebuah sumber air milik orang Yahudi, namun, atas anjuran Rasulullah SAW, Khalifah Utsman bin Affan menebus telaga tersebut seharga 20 ribu dirham dan mewakafkannya untuk kepentingan masjid dan jama’ah.

Menariknya, air telaga tersebut hingga sekarang masih berfungsi untuk memenuhi kebutuhan masjid serta penduduk sekitar dan tidak pernah kering. Namun kini bentuk fisiknya tidak terlihat, karena ditutup dengan tembok, untuk melindunginya dari kerusakan.

Masjid Qiblatayn memang tidak pernah sepi pengunjung. Seperti jamaah haji dan umrah tatkala berkunjung ke Madinah, yang selalu menyempatkan diri berziarah ke masjid tersebut. Biasanya, penziarah pun shalat di masjid itu. SEL(Majalah Alkisah)

Selasa, 01 September 2009

BAGAIMANA MESIR MEMPEROLEH NAMANYA?

Menurut sejarah, bangsa Semit yang tinggal di sekeliling Mesir (Asyiria, Aram, lbrani dan Arab) menyebut negeri ini dengan nama מצרים - MITSRAYIM.
MITSRAYIM dalam bahasa Semit berarti batas. Lantaran itu, bangsa Semit menyebut daerah yang berada dalam lingkungan mereka sebagai MITSRAYIM, manakala penduduknya sebagai מצרי - MITSRY.

Berbeza pula dengan orang-orang Qibti yang menyebut negeri ini pada zaman lampau dengan istilah Kemy yang membawa arti hitam atau tanah yang hitam.
Perkara yang dapat dikesan daripada peninggalan-peninggalan prasasti Venekia, orang-orang Asyiria menyebut negeri ini sebagai Hecobtah. Ia diambil daripada sebutan orang-orang Mesir sendiri bagi kerajaan Mesir lama iaitu Menat (Memphis) yang membawa erti tempat bersemayamnya Roh Bietah. Bietah merupakan dewa Mesir yang dianggap sebagai pelindung kepada perindustrian pada masa dahulu.

Orang-orang Yunani pula, menyebut Mesir dengan nama αιγυπτος - aiguptus / aigyptos. Nama Aigyptos ini disebut berulangkali dalam syair-syair pujangga agung Yunani, Homerus.

MENELUSURI SEJARAH MESIR PURBA

Seorang budayawan bernama Champollion yang telah mengikuti ekspedisi Napoleon Bonaparte ketika menduduki Mesir pada tahun 1798 berusaha menyelidiki sebuah prasasti (batu bersurat) yang dijumpai di Kampung Rasyid. Prasasti tersebut mengandungi catatan Ptolomeus V dari Yunani (tahun 320 SM). Catatan tersebut didapati dalam tiga tulisan yaitu Hi-eroglyphics, Demotic, dan Coptic. Penyelidikan berpuluh-puluh tahun yang dibuat oleh Champollion itu telah berjaya menemui nama Ptolemy dan Cleopatra. Ptolemy merupakan salasilah raja-raja Mesir yang beijumlah 15 orang bermula dari tahun 304 SM hingga 30 SM. Mereka menjadikan Iskandariah sebagai kota pemerintahan. Bertitik tolak dari saat itulah, tulisan Hieroglyphics sudah boleh dibaca bahkan sehingga mampu menyingkap sejarah Mesir Purba.

Menelusuri sejarah Mesir, ia telah bermula sejak tahun 3400 SM yang lalu. Ketika itu, munculnya Revolusi Kebudayaan yang menjadi asas bagi negara ini mengorak langkah ke arah kemajuannya. Bermula daripada kemajuan pertanian, ia seterusnya membawa kepada perubahan corak hidup masyarakat yang sering berpindah-pindah kepada masyarakat yang sudah memiliki penempatan yang tetap. Setelah itu, terbentuk pula sebuah masyarakat baru yang kemudiannya berkembang sehingga terdirinya beberapa buah kerajaan kecil.

Menjelang tahun 3000 SM, kerajaan-kerajaan kecil itu telah dapat membentuk dua buah kerajaan besar iaitu Mesir Hulu di daerah selatan dengan Thebes sebagai ibu kotanya (kini Luxor) dan Mesir Hilir di bahagian utara dengan Memphis sebagai ibu kotanya. Raja Mesir Hilir yang bemama Menes telah berjaya menyatukan dua buah kerajaan tersebut dengan mengekalkan Memphis sebagai ibukota. Bukan setakat itu sahaja perkembangan yang dibawa oleh Menes, bahkan beliau turut berjaya menghasilkan satu bentuk tulisan yang dinamakan Hieroglyphics.

Bangsa Yunani menyatakan bahawa Memphis merupakan sebuah ibukota Mesir Purba (2615 -1920 SM) yang terletak berhampiran Sakkara. Di kota inilah didirikan kerajaan Mesir awal daripada dinasti pertama (3200 SM). Maka tidak heranlah jika di situ juga terdapat kawasan perkuburan para pemangku raja daripada dinasti pertama dan hampir kesemua raja daripada dinasti kedua.

Setelah itu, apabila terbentuknya kerajaan Mesir baru (1570 -322 SM ), maka ibukotanya dipindahkan dari Memphis ke Thebes. Sungguhpun demikian, kebanyakan pegawai pemerintah masih tinggal di Memphis sehinggalah akhir hayat mereka, lalu dikebumikan di Sakkara. Bahkan Sakkara sendiri merupakan satu kawasan yang dibangunkan khas untuk Raja Zoger daripada dinasti ke-3.


ASAL-USUL KOTA ISKANDARIAH

Tahun 332 SM merupakan titik permulaan munculnya salah sebuah kota yang masyhur di bumi Mesir yaitu Kota lskandariah/' Alexandria. Kota lskandariah ini dibina oleh seorang penjelajah dunia yang terkenal, Iskandar Zulkarnaen (Alexander The Great). Iskandar Zulkarnaen telah memerintahkan Denakrates, seorang ahli perancang kota asal Yunani untuk merealisasikan pembinaan kota impiannya itu. Namun selepas itu, dia telah berpindah ke timur pula.

Kota Iskandariah (Alexandria) kemudiannya mengalami kemajuan yang pesat dan pernah menjadi ibu negara Mesir selama hampir 1000 tahun. Hal ini berlanjutan sehingga penaklukan Islam ke atas Mesir pada tahun 21 Hijrah (621 Masehi), iaitu setelah penguasaan oleh tiga peradaban besar : Batlemeus, Roma dan Bazentine.
Kini, Iskandariah merupakan kota kedua terbesar di Mesir dan terkenal sebagai kota pelabuhan import-eksport.(sarapanpagi)
Sumber : http://www.pmram.org/mesir/sejarah.ht

Firaun Manakah Yang Tenggelam di Laut Merah?


Kisah mengenai Mukjizat Nabi Musa (Moses) yang membelah Laut Merah dengan tongkatnya untuk menghindari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya tentunya sudah tak asing lagi ditelinga kita. Di kitab suci Al-Qur’an dan Alkitab, kronologi pengejaran dikisahkan begitu gamblang walaupun terdapat sedikit perberbedaan kisah diatara keduanya. Namun yang pasti, kedua kitab suci tersebut mengisahkan kepada kita mengenai akhir yang menggembirakan bagi Musa beserta Kaum Bani Israel karena dapat meloloskan diri dari kejaran Fir’aun beserta bala tentaranya. Dan bagi sang Fir’aun, ia justru menemui ajalnya setelah tenggelam bersama pasukannya di Laut Merah.

Walaupun Al-Quran dan Alkitab sudah cukup jelas mengisahkan kronologi peristiwa itu terjadi, namun masih terdapat teka-teki mengenai siapa sebenarnya Fir’aun yang memimpin pengejaran terhadap Musa beserta kaum Bani Israel? Al-Quran dan Alkitab tidak menyebutkan secara mendetail siapakah Fir’aun yang dimaksud.
Fir’aun (Pharaoh) merupakan gelar yang diberikan kepada raja-raja Mesir kuno. Asal usul istilah Fir’aun sebetulnya merujuk kepada nama istana tempat berdiamnya seorang raja, namun lama – kelamaan digunakan sebagai gelar raja-raja Mesir kuno. Banyak Fir’aun yang telah memimpin peradaban yang terkenal dengan penginggalan Piramida Khufu-nya itu, mulai dari Raja Menes -sekitar 3000 SM, pendiri kerajaan, pemersatu Mesir hulu dan hilir – hingga Mesir jatuh dibawah kepemimpinan raja-raja dari Persia.

Sejauh ini telah banyak studi yang dilakukan untuk mengidentifikasi siapakah Fir’aun yang sedang berkuasa saat peristiwa keluarnya Musa beserta Bani Israel dari tanah Mesir. Berikut beberapa kandidatnya :
• Ahmose I (1550 SM – 1525 SM)
• Thutmose I (1506 SM – 1493 SM)
• Thutmose II (1494 SM – 1479 SM)
• Thutmose III (1479 SM – 1425 SM)
• Amenhotep II (1427 SM – 1401 SM)
• Amenhotep IV (1352 SM – 1336 SM)
• Horemheb (sekitar 1319 SM – 1292 SM)
• Ramesses I (sekitar 1292 SM – 1290 SM)
• Seti I (sekitar 1290 SM – 1279 SM)
• Ramesses II (1279 SM – 1213 SM)
• Merneptah (1213 SM – 1203 SM)
• Amenmesse (1203 SM – 1199 SM)
• Setnakhte (1190 SM – 1186 SM)
Dari daftar beberapa Fir’aun diatas, nama Ramesses II selama ini memang kerap diidentifikasikan sebagai Fir’aun yang sedang berkuasa pada saat itu. Ia merupakan sosok Fir’aun terbesar dan terkuat yang pernah memimpin peradaban Mesir kuno. Ramesses II juga merupakan salah satu Fir’aun yang paling lama berkuasa, yakni 66 tahun lamanya.
Sifatnya yang kadang tirani terhadap masyarakat kelas bawah, membuat sejarawan banyak yang berspekulasi dengan menyebutkan ia sebagai raja yang memperbudak Bani Israel. Walaupun demikian, tidak ada bukti arkeologi yang benar-benar memperkuat dugaan tersebut. Selain itu periode masa hidupnya juga dikatakan tidak cocok dengan kemungkinan terjadinya peristiwa keluaran.
Kemudian menilik ke Raja Merneptah – putra Ramesses II – yang berkuasa setelah Ramesses II mangkat, ia juga bukan merupakan Fir’aun yang dimaksud mengingat pada masa pemerintahannya, Merneptah pernah mengatakan bahwa Bangsa Israel telah tiba di tanah Kana’an. Itu artinya, peristiwa keluarnya Musa beserta Bani Israel telah lama terjadi sebelum ia berkuasa.
Lalu bagaimana dengan Seti I, ayah dari Ramesses II ? Bagaimanapun juga, ahli sejarah Alkitab mengatakan peristiwa keluaran ini terjadi disekitar 1400 SM, itu jauh dari masa pemerintahan Seti I.
Beberapa Sejarawan yang menggunakan metode penelitian dengan cara mencocokkan kronologi di dalam catatan-catatan peninggalan Mesir Kuno dengan perkiraan waktu keluaran pada kitab suci menyimpulkan, kemungkinan peristiwa itu terjadi saat Mesir kuno dibawah pimpinan Raja-raja Dinasti ke-18.
Dinasti ke-18 mencakup beberapa raja, yakni Thutmose I (1506 SM – 1493 SM), Thutmose II (1494 SM – 1479 SM), diselingi oleh kepempinan Fir’aun wanita yaitu Ratu Hatsepsut (1479 SM -1458 SM) kemudian Thutmose III (1479 SM – 1425 SM).

Benarkan Thutmose II Fir’aun yang tenggelam di Laut Merah?


Menurut studi yang dilakukan oleh Sejarawan Alan Gardiner, setelah kematian Thutmose I dan masa persinggahannya selama 40 tahun di Madyan / Midian, Musa memutuskan untuk kembali ke tanah Mesir tempat beliau dibesarkan. Allah menugaskan Musa untuk menyampaikan ajaran agama yang hakiki kepada Fir’aun. Pada saat itu, Mesir dipimpin oleh Raja Thutmose II yang memperistri Ratu Hatshepsut.
Thutmose II, menurut sejarah bukanlah sosok Fir’aun yang hebat, sebaliknya istrinya Hatshepsut yang banyak berperan penting bagi kemajuan kerajaan. Walaupun bukan merupakan sosok pemimpin yang dikatakan berpengaruh, Gardiner tetap meyakini Thutmose II merupakan kandidat terkuat fir’aun yang melakukan pengejaran terhadap Musa beserta kaum Bani Israel. Hal itu dikarenakan banyaknya kecocokan dengan studi sejarah yang ia lakukan.
Garnier juga menambahakan bahwa di pusara tempat berdiamnya mummi Thutmose II, hampir tidak ditemukan ornamen-ornamen dan benda-benda berharga “semewah” pusara raja-raja Mesir kuno yang lainnya. Ada kesan bahwa raja ini tidak begitu disukai dan dihormati oleh rakyatnya, sehingga mereka tak peduli dengan kematian sang Raja. Selain itu, kematiannya yang mendadak juga menjadi salah satu alasannya.
Penelitian terhadap Mummi Thutmose II yang ditemukan di situs Deir el-Bahri pada tahun 1881 mengungkapkan bahwa terdapat banyak bekas cidera di tubuhnya, dan Mummi-nya ditemukan tidak dalam kondisi yang bagus. Hal ini mungkin menandakan Thutmose II mati secara tidak wajar. Apakah cidera di tubuhnya itu akibat hempasan kekuatan gelombang Laut Merah yang secara tiba-tiba tertutup kembali? Wallahu ‘alam Bishawab
Al-Quran sendiri mengisahkan detik-detik terakhir kehidupan Sang Fir’aun :
Dan Kami memungkinkan Bani Israel melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah ia ;” Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. ( QS Yunus 90).
Dari ayat diatas kita dapat mengetahui bahwa Fir’aun mencoba memohon kepada Allah agar ia diselamatkan ketika air mengenggelamkan raganya. Namun sangatlah jelas bahwasannya tindakan Fir’aun hanyalah suatu kebohongan semata sebagai alasan untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari maut.
Setelah sang Fir’aun tewas pada periode pemerintahannya yang tergolong singkat, besar kemungkinan jalannya roda pemerintahan diambil alih sementara oleh sang Ratu yang tak lain ialah Hatshepsut sebelum akhirnya Thutmose III naik tahta.
Jika benar Thutmose II merupakan Fir’aun yang dimaksud, ada suatu kemungkinan kronologi sejarahnya menjadi demikian :
Pertama, Musa dibesarkan dilingkungan kerajaan Mesir saat Thutmose I berkuasa, dan istri Thutmose I yang menemukan bayi Musa saat hanyut di Sungai Nil.
Kedua, selang puluhan tahun setelah Musa melarikan diri dari tanah Mesir karena ancaman hukuman mati akibat peristiwa terbunuhnya seorang prajurit kerajaan olehnya, ia kembali untuk menyampaikan ajaran Allah kepada Fir’aun. Namun pada saat itu mungkin Thutmose I telah meninggal dan digantikan putranya Thutmose II.

Mengapa Thutmose II Diyakini Sebagai Firaun Yang Tenggelam di Laut Merah Sedangkan Mummi-nya Sendiri Berhasil Ditemukan?
Pertanyaan diatas memang kerap ditanyakan. Mereka yang bertanya kebanyakan beranggapan bahwa Jasad Fir’aun tidak mungkin berhasil ditemukan apalagi dalam bentuk Mummi, sebab telah tenggelam di Laut Merah bersama bala tentaranya.
Bagi kawan-kawan muslim, Al-Quran mengisahkan kepada kita sebagai berikut :
Apakah sekarang (kamu baru percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesunguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuatan Kami. ( QS Yunus 91-92).
Tentunya ayat diatas sudah cukup menjelaskan mengapa Allah dengan sengaja menyelamatkan jasad sang Fir’aun. (sumber : EriRicaldo.Com dari Dipta)

Rabu, 26 Agustus 2009

Sejarah Singkat Penerbangan Garuda Indonesia ( I )


Penerbangan Pertama
Penerbangan komersial Republik Indonesia dimulai pada tanggal 26 Januari 1949 dari Calcuta ke Rangoon mengunakan pesawat tipe Douglas DC-3 Dakota RI 001 dengan nama Seulawah (Gunung Emas)

Membawa Dunia ke Bali
Garuda Indonesia pertama kali membuka gerbang penerbangan international ke Bali pada tahun 1951 dengan menggunakan Douglas DC-3 Dakota. Pulau Bali sampai saat ini dikenal sebagai salah satu “Pulau wisata Terbaik di Dunia” dan Garuda Indonesia memegang peranan penting dalam menjadikan Bali sebagai tujuan wisata dunia.

Konferensi Asia-Afrika, 1955
Konferensi Asia-Afrika pertama dikalsanakan di kota Bandung pada tanggal 19 April 1955. Sebagian besar kepala negara dari 29 negara kawasan Asia dan Afrika terbang menggunakan pesawat Garuda Indonesia dari Bandar udara Kemayoran Jakarta Utara menuju Bandung.

Naik Haji ke Tanah Sutji
Pada bulan Juni 1956 untuk pertama kalinya Garuda Indonesia menerbangkan 40 orang jamaah untuk menunaikan ibadah haji menggunakan pesawat tipe Convair 340. Sampai saat ini Garuda Indonesia telah menerbangkan lebih dari 100.000 jemaah ke Mekkah setiap tahunnya.

Penerbangan Pesawat Jet Pertama dari Indonesia
Pada tahun 1965, Garuda Indonesia merupakan maskapai penerbangan pertama di Asia Tenggara yang memiliki layanan antar benua menggunakan teknologi pesawat jet tipe Convair 990A. Inilah pesawat komersial pertama yang dilengkapi dengan mesin jet turbo dan sampai saat ini masih tercatat sebagai pesawat sipil sub-sonic tercepat yang pernah dibuat.

Terbang Lebih Tinggi
Garuda Indonesia mengembangkan armadanya dengan pesawat jet mulai tahun 1977, diawali dengan penggantian turbo Fokker F-17 Friendship dengan pesawat twinjet Fokker F-28 Mk 3000 Fellowship. Pergantian armada Garuda Indonesia juga meliputi 4 pesawat berbadan lebar Douglas DC-10, 3 Douglas DC-8, 18 McDonnell Douglas DC-9 dan 32 Fokker F-28. Keseluruhan armada jet tersebut memungkinkan Garuda Indonesia menawarkan kenyamanan penerbangan baru yang dapat lebih diandalkan ke seluruh wilayah di Indonesia.

Selasa, 25 Agustus 2009

Telanjur Ditawan, Ternyata Salah Paham

Upaya Bung Tomo mengajak warga Surabaya mengangkat senjata membuat gerah banyak pihak. Tidak hanya sekutu, namun juga tentara republik. Dia sempat ditawan, namun kemudian dilepaskan. Di ujung Kampung Blauran, pukul 1.30 WIB, pertengahan Oktober 1945, Dr Moestopo dan Roestam Zain datang ke Rumah mungil ini. Moestopo memakai baju hitam dan ikat kepala, sedangkan Roestam bersenjata lengkap.

Moestopo mengusulkan penjagaan bersenjata di depan rumah Bung Tomo. Namun, si Bung menolak halus. “Sudahlah, mas. Rakyat di kampung ini cukup waspada untuk menjaga keselamatan diriku. Mereka itu selalu bergiliran berpatroli di halaman rumahku…”

Tetapi, Moestopo tetap mendesak. “Tetapi, ingatlah pula, orang orang NICA mungkin selalu mengintai Saudara… Terutama setelah mereka mendengar pidato-pidato Saudara…”

Esok hari, Bung Tomo keluar rumah, mampir di kantor berita Antara di pojokan Jl Tunjungan dan Jl Embong Malang, sekarang Museum Pers. Dia mengatur serah terima setelah mundur jadi pimpinan redaksi. Siang hari, si Bung pulang lagi ke Blauran.

Namun, kali ini ada yang berubah dari air muka orang tua si Bung. Mereka tidak menyapa dan hanya melihat. “Tak jarang aku merasa perlu memeluk ibuku, sekadar menenteramkan jiwa yang gelisah. Ibu yang kusayangi itu hanya berdiam diri, memandang ke depan. Kadang hanya anggukan kepala yang menandakan kepadaku bahwa beliau mengerti maksudku,” kenangnya.

Telepon rumah si Bung berbunyi. Di ujung telepon seseorang mengonfirmasi rapat pucuk pimpinan pemberontakan. Bung Tomo menjawab pukul 5.00 WIB sore. Dia kemudian makan siang, tidak lama datanglah Hilmi. Pemuda yang dikenalnya sebagai pelopor Organisasi Pemuda Republik Indonesia (PRI) Surabaya. Kini tak tampak senyum Hilmi ke Bung Tomo. Dia memasang tampang tidak bersahabat.

“Di balik pintu tengah rumahku, aku melihat ibu memandang ke arah diriku. Air mata beliau berlinang.” Berkatalah saudara Hilmi, “Saya harap Saudara ke markas Pemuda Republik Indonesia. Kawan-kawan meminta Saudara datang.”

Saya jawab, “Maaf, saya nanti pukul 5 ada rapat.” Namun Hilmi meninggikan frekwensi suaranya. “Saudara harus datang sekarang. Kalau dengan cara halus Saudara tidak suka. Saya terpaksa akan mengambil jalan kekerasan.”

Si Tomo berubah cemas. Dia merasa sedang dalam bahaya. Dia baru sadar ketika keluar rumah. Puluhan pemuda bersenjata lengkap telah mengepung rumah ini. Si Tomo diangkut truk dibawa ke markas PRI di Simpang. Sekarang markas itu menjadi Balai Pemuda.

Setelah sampai di markas pemuda di Simpang, si Bung dibawa masuk ke ruang intelligence service atau penyelidikan yang dipimpin Restam Zain. “Saat menuju ke tempat Saudara Roestam Zain, nampaklah olehku bahwa kemana mana aku pergi seorang lasykar dengan bayonet terhunus senantiasa mengikuti jejakku. Taulah aku bahwa kini akau seorang tawanan.”

Sampai pukul 5, Bung Tomo diperlalukan seperti tawanan lain, bercampur dengan tawanan Belanda. tidak mendapat makan dan hanya mengais cokelat di tumpukan barang milik tawanan Belanda. Penawanan si Bung berakhir pukul 6.30, Ketika Roestam menelepon Soedjono, seorang komisaris polisi bawahan Markas Dr Moestopo. “Ini bung kecil disuruh tahan di sini apa perkaranya?” tanya Roestam. Hanya beberapa detik pembicaraan itu berakhir, Roestam kemudian tersenyum dan menutup telepon. Kemudian menghampiri Si Bung.

“Hanya salah paham,” kata dia. Dijelaskannya, markas tentara pimpinan Moestopo siang hari tadi memang memerintahkan PRI “melindungi” Bung Tomo. Moestopo meminta PRI “melindungi” karena tentara atau polisi tidak mungkin menjaga pemimpin tidak resmi seperti Si Bung. Nah perintah “melindungi” ini diterjemahkan PRI sebagai menawan seperti perintah melindungi warga Belanda yang maksudnya menawan. (kuncarsono prasetyo Surya Online)

Jumat, 21 Agustus 2009

PANGERAN DIPONEGORO (1785-1855)

Ketika Sultan Hamengku Buwono IV wafat secara mendadak pada tahun 1822, atas persetujuan Belanda yang ditunjuk menggantikannya adalah Pangeran Menol yang baru berusia tiga tahun. Karena ia belum dewasa maka dibentuk dewan perwalian yang bertugas mendampingi Sultan dalam menjalankan pemerintahan. Dewan itu terdiridari permaisuri Sultan Hamengku Buwono III ( Ibunda Sultan hamengku Buwono IV, Pangeran Mangkubumi (putra Sultan Hamengku Buwono) dan Pangeran Diponegoro (putra Sultan Hamengku Buwono III).
Secara bertahap anggota dewan itu disingkirkan dan diganti oleh Patih Danurejo IV yang sangat memihak pada Belanda. Kekecewaan terhadap pemerintahan kerajaan yang dalam bidang politik sangat dipengaruhi oleh Belanda, menyebabkan Pangeran Diponegoro lebih banyak tinggal di Tegalrejo. Diluar Istana terdapat kekecewaan di kalangan sebagaian besar rakyat, khususnya petani. Hal itu disebabkan oleh tekanan pajak dan kerja wajib, juga dari tindakan raja mengijinkan penyewaan tanah pada perkebunan-perkebunan swasta asing. Tak ketinggalan para bangsawan menyewakan tanah lungguh mereka pada pihak asing.Dalam keadaan hidup yang sulit itu, rakyat menemukan bahwa dalam diri Pangeran Diponegoro mereka mendapatkan jalan. Hal ini tampak ketika terjadi kerusuhan mengenai pembuatan jalan melalui tanah Tegalrejo tanpa seizin Diponegoro. Insiden pamasangan tonggak jalan yang terjadi pada tanggal 20 Juli 1825 tidak dapat diselesaikan oleh kedua belah pihak.
Dengan perantaraan Pangeran Mangkubumi, Residen Smisaert meminta Pangeran Diponegoro untuk datang ke kantor Residen, tetapi Pangeran Diponegoro menolak. Pangeran mangkubumi justru mendapat ancaman karena tidak berhasil melunakkan Pangeran Diponegoro. Ketika Pangeran Mangkubumi hendak menulis jawaban kepada Residen, pasukan Belanda telah mendahului menembakan meriamnya. Pangeran mangkubumi bersama Pangeran Diponegoro berhasil meloloskan diri melalui pintu samping. Rumah, Masjid serta harta milik pangeran Diponegoro dibakar habis. Pangeran Diponegoro kemudian memusatkan pertahanannya di daerah Selarong.
Dukungan pada perjuangan Diponegoro meluas, tidak terbatas pada rakyat petani dan para pengeran, tetapi juga para ulama. Mereka menggabungkan diri termasuk seorang ulama besar Kyai Mojo dan Sentot Alibasyah Prawirodirjo, seorang bangsawan yang kemudian menjadi panglima utamanya. Dua kali Jendral de Kock mengirimkan surat kepada Diponegoro tertanggal 7 Agustus 1825 dan 14 Agustus 1825 untuk menawarkan perdamaian. Ajakan itu tidak mendapatkan tanggapan. Kemudian Belanda menyediakan hadiah uang 20.000 ringgit bagi siapa saja yang dapat menangkap Diponegoro hidup atau mati. Usaha Belanda itu mengalami kegagalan karena rakyat tetap setia kepada pemimpin mereka.
Diberbagai medan pertempuran, seperti di Kedu, Kulon Progo, Gunung Kidul, Sukowati, Semarang, Madiun, Magetan dan Kediri Belanda tidak mendapatkan kemenangan yang berarti.
Rupanya Belanda menyadari banyaknya dukungan rakyat kepada peminpin mereka yang dianggap sebagai perwujudan Ratu Adil atau Erucakra. Oleh karena itu, pada tahun 1827 taktik “benteng stelsel” diterapkan. Disetiap daerah yang berhasil dikuaisai, didirikan benteng yang berhubungan dengan benteng sebelumnya lewat prasarana jalan, perbekalan dan patroli serdadu yang teratur. Strategi ini membawa kemajuan dengan tertangkapnya sejumlah panglima perang seperti Sentot Alibasyah dan Pangeran mangkubumi. Namun perlawanan Diponegoro tetap berlangsung dan menambah rasa antipati rakyat terhadap pemerintah kolonial Belanda.
Jendral de Kock kemudian melancarkan strategi “meja perundingan” dengan mengajak Diponegoro berunding. Secara rahasia dia menginstruksikan bila perundingan itu gagal maka Diponegoro harus ditangkap. Seperti sudah diperkirakan sebelumnya, Pangeran menolak syarat-syarat yang diajukan Belanda. Akibatnya pada tanggal 28 Maret 1830, pejuang dari Tegalrejo itu ditangkap dan dibuang ke Menado. Beberapa waktu kemudian, dia dipindahkan ke Ujung Pandang hingga wafat pada tanggal 8 Januari 1855.

Kamis, 06 Agustus 2009

Locomotif Jadul





20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional (2)

Dalam tulisan bagian pertama, telah dipaparkan betapa organisasi Boedhi Oetomo (BO) sama sekali tidak pantas dijadikan tonggak kebangkitan nasional. Karena BO tidak pernah membahas kebangsaan dan nasionalisme, mendukung penjajahan Belanda atas Indonesia, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya ternyata anggota Freemasonry. Ini semua mengecewakan dua pendiri BO sendiri yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga akhirnya mereka berdua hengkang dari BO.

Tiga tahun sebelum BO di bentuk, H. samanhudi dan kawan-kawan mendirikan Syarikat Islam (SI – awalnya Syarikat Dagang Islam atau disingkat SDI) di Solo pada tanggal 16 Oktober 1905. “Ini merupakan organisasi Islam yang terpanjang dan tertua umurnya dari semua organisasi massa di tanah air Indonesia”, tulis KH. Firdaus AN.
Berbeda dengan BO yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura – juga hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura – sifat SI lebih nasionalis. Keanggotaan SI terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas Islam. Sebab itu, susunan para pengurusnya pun terdiri dari berbagai macam suku, seperti : Haji Samanhudi dan HOS Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatra Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku. Guna mengetahui perbandingan antara kedua organisasi tersebut – SI dan BO – maka dibawah ini dipaparkan perbandingan antara keduanya :
TUJUAN :
• SI bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya.
• BO bertujuan menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura (Anggaran dasar BO Pasal 2).
SIFAT:
• SI bersifat nasional untuk seluruh bangsa Indonesia.
• BO bersifat kesukuan yang sempit, terbatas hanya Jawa-Madura.
BAHASA:
• SI berbahasa Indonesia, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Indonesia.
• BO berbahasa Belanda, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Belanda.
SIKAP TERHADAP BELANDA:
• SI bersikap non-koperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda.
• BO bersikap menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda, karena sebagian besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah Belanda.
SIKAP TERHADAP AGAMA:
• SI membela Islam dan memperjuangkan kebenarannya.
• BO bersikap anti Islam dan anti Arab (Dibenarkan oleh sejarawan Hamid Algadrie dan Dr. Radjiman)
PERJUANGAN KEMERDEKAAN:
• SI memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengantar bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan.
• BO tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan telah membubarkan diri tahun 1935, sebab itu tidak mengantarkan bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan.
KORBAN PERJUANGAN:
• Anggota SI berdesak-desakan masuk penjara, ditembak mati oleh Belanda, dan banyak anggotanya yang dibuang ke Digul, Irian Barat.
• anggota BO tidak ada satu pun yang masuk penjara, apalagi ditembak mati dan dibuang ke Digul.
KERAKYATAN:
• SI bersifat kerakyatan dan kebangsaan.
• BO besifat feodal dan keningratan.
MELAWAN ARUS:
• SI berjuang melawan arus penjajahan.
• BO menurutkan kemauan arus penjajahan.
KELAHIRAN:
• SI (SDI) lahir 3 tahun sebelum BO yakni 16 Oktober 1905.
• BO baru lahir pada 20 Mei 1908.
SEHARUSNYA 16 OKTOBER
Hari kebangkitan nasional yang sejak tahun 1948 kadung di peringati setiap tanggal 20 Mei sepanjang tahun, seharusnya dihapus dan digantikan dengan tanggal 16 Oktober, hari berdirinya Syarikat Islam. Hari Kebangkitan Nasional Indonesia seharusnya diperingati tiap tanggal 16 Oktober, bukan 20 Mei. Tidak ada alasan apapun yang masuk akal dan logis untuk menolak hari ini. Jika kesalahan tersebut masih saja dilakukan, bahkan dilestarikan, maka kita perlu khawatir bahwa jangan-jangan kesalahan tersebut disengaja. Dan kita juga khawatir, jangan-jangan kesengajaan tersebut dilakukan oleh para pejabat bangsa ini yang sesungguhnya anti Islam dan a-historis.
Jika keledai saja tidak terperosok ke lubang yang sama hingga dua kali, maka sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia seharusnya mulai hari ini juga menghapus tanggal 20 Mei sebgai Hari Kebangkitan Nasional, dan melingkari besar-besar tanggal 16 Oktober dengan spidol merah dengan catatan “Hari Kebangkitan Nasional” (Tamat)/ Rizki Ridyasmara.( naskah dari Konspirasi)

Rabu, 05 Agustus 2009

Foto Mbah Surip waktu muda





















Dari kiri bawah searah jarum jam, (1) Mbah Surip waktu di SDN Purwotengah II Kota Mojokerto, (2) Sekolah Tehnik Jurusan Mesin Thn 1978, (3) Foto dari sertifikat Bimbingan Program Studi Unsuri thn 1979. (4) Sebelum meninggal.
(didapat dari Blog Lucu, Keindahan, Tehnologi)


Senin, 03 Agustus 2009

20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional (1)

Kelahiran organisasi Boedhi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908, sesungguhnya amat tidak patut dan tidak pantas diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, karena organisasi ini mendukung penjajahan Belanda, sama sekali tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, a-nasionalis, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya merupakan anggota freemasonry Belanda (Vritmejselareen).


Dipilihnya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sesungguhnya merupakan suatu penghinaan terhadap esensi perjuangan merebut kemerdekaan yang diawali oleh tokoh-tokoh Islam yang dilakukan oleh para pengusaha sekuler. Karena organisasi Syarikat Islam (SI) yang lahir terlebih dahulu dari Boedhi Oetomo (BO), yakni pada tahun 1905, yang jelas-jelas bersifat nasional, menentang penjajah Belanda, dan mencita-citakan Indonesia merdeka, tidak dijadikan tonggak kebangkitan nasional.Mengapa BO yang terang-terangan antek penjajah Belanda, mendukung penjajahan Belanda atas Indonesia, a-nasionalis, tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, dan anti agama malah dianggap sebagai tonggak kebangkitan bangsa? Ini jelas kesalahan yang teramat nyata.
Anehnya, hal ini sama sekali tidak dikritisi oleh tokoh-tokoh Islam kita. Bahkan secara menyedihkan, ada sejumlah tokoh Islam dan para ustadz selebritis yang ikut-ikutan merayakan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei di berbagai event. Mereka ini sebenarnya telah melakukan sesuatu tanpa memahami esensi dibalik hal yang dilakukannya. Rasulullah SAW telah mewajibkan umatnya untuk bersikap “Ilmu qabla amal” (Ilmu sebelummengamalkan), yang berarti umat Islam wajib mengetahui duduk perkara sesuatu hal secara benar sebelum mengerjakannya.
Bahkan Sayyid Quthb di dalam karyanya “Tafsir Baru Atas Realitas” (1996) menyatakan; orang-orang yang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup adalah sama dengan orang-orang jahiliyah, walau orang itu mungkin seorang ustadz bahkan profesor. Jangan sampai kita “Fa Innahu Minhum” (kita menjadi golongan mereka) terhadap kejahiliyahan.
Agar tidak terperosok berkali-kali ke dalam lobang yang sama, sesuatu yang bahkan tidak pernah dilakukan seekor keledai sekalipun, ada baiknya kita memahami siapa sebenarnya Boedhi Oetomo itu.
Pendukung penjajahan Belanda
Akhir Februari 2003, sebuah amplop besar, pagi-pagi telah tergeletek di atas meja penulis. Pengirimnya KH. Firdaus AN, mantan ketua Majelis Syuro Syarikat Islam kelahiran Minanjau tahun 1924. Di dalam amplop coklat itu, tersembul sebuah buku berjudul “Syarikat Islam Bukan Budi Utomo : Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa” Karya si pengirim. Di halaman pertama, KH. Firdaus AN menulis : “Hadiah kenang-kenangan untuk ananda Rizki Ridyasmara dari penulis, semoga bermamfa’at!” Di bawah tanda tangan beliau tercantum tanggal 20/2/2003.
KH. Firdaus AN telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Namun, pertemuan-pertemuan dengan beliau, berbagai diskusi dan obrolan ringan antara penulis dengan beliau, masih terbayang jelas seolah baru kemaren terjadi. Selain topik penghianatan The Founding- Fathers bangsa ini yang berakibat dihilangkannya tujuh buah kata dalam mukaddimah UUD 1945, topik diskusi lainnya yang sangat konsern beliau bahas adalah tentang Boedhi Oetomo.
“BO tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekaan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemerdekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, dimana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya”, tegas KH. Firdaus AN.
BO didirikan di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa para mahasiswa kedokteran STOVIA, Soetomo dan kawan-kawan. Perkumpulan ini dipimpin oleh para Ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia terhadap pemerintah kolonial Belanda. BO pertama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian ia diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh Belanda dan sangat setia lagi patuh pada induk semangnya.
Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan anggaran dasar organisasi, BO menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekalipun rapat BO membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri, dan menjelek-jelekan Islam yang dianggapnya sebagai batu sandungan bagi upaya mereka”, papar KH. Firdaus AN.
Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis, “Tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis”. Inilah tujuan BO, bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan kebangsaan.
Noto Soeroto, salah seorang tokoh BO, di dalam satu pidatonya tentang ‘Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereniging’ berkata : Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya…sebab itu, soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan”.
Sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik BO di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam majalah ‘Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu kamu punya Kiblat!” (M.S) Al-Lisan nomor 24,1938.
Karena sifatnya yang tunduk pada pemerintahan kolonial Belanda, maka tidak ada satupun anggota BO yang ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Arah perjuangan BO yang sama sekali tidak berasas kebangsaan, melainkan chauvinisme sempit sebatas memperjuangkan Jawa dan Madura saja, telah mengecewakan dua tokoh besar BO sendiri, yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya hengkang dari BO.
Bukan itu saja, dibelakang BO pun terdapat fakta yang mencengangkan. Ketua pertama BO yakni Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, ternyata adalah seorang anggota Freemasonry. Dia aktif di Loge Mataram sejak tahun 1895.Sekertaris BO (1916), Boediardjo, juga seorang Mason yang mendirikan cabangnya sendiri, yang dinamakan Mason Boediardjo. Hal ini dikemukakan dalam buku “Tarekat Mason Bebas Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962″ (Dr. Th. Stevens), sebuah buku yang dicetak terbatas dan hanya diperuntukan bagi anggota Mason Indonesia.
Dalam tulisan kedua akan dibahas mengenai organisasi kebangsaan pertama di Indonesia, Syarikat Islam, yang telah berdiri tiga tahun sebelum BO, dan perbandingannya dengan BO, sehingga kita dengan akal yang jernih bisa menilai bahwa Hari Kebangkitan Nasional seharusnya mengacu pada kelahiran SI pada tanggal 16 Oktober 1905, sama sekali bukan 20 Mei 1908.(Bersambung)/Rizki Ridyasmara.( naskah dari Konspirasi)


Rabu, 29 Juli 2009

Depok Tempo Dulu


Depok Zaman Prasejarah

Penemuan benda bersejarah di wilayah Depok dan sekitarnya menunjukkan bahwa Depok telah berpenghuni sejak zaman prasejarah. Pene-muan tersebut itu berupa Menhir "Gagang Golok", Punden berundak "Sumur Bandung", Kapak Persegi dan Pahat Batu, yang merupakan peninggalan zaman megalit. Juga penemuan Paji Batu dan sejenis Beliung Batu yang merupakan peninggalan zaman Neolit.
Depok Zaman Padjajaran

Pada abad ke-14 Kerajaan Padjajaran diperintah seorang raja yang diberi gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan, yang lebih dikenal dengan gelar Prabu Siliwangi. Di sepanjang Sungai Ciliwung terdapat beberapa kerajaan kecil di bawah kekuasaan kerajaan ini, diantaranya Kerajaan Muara Beres. Sampai Karadenan terbentang benteng yang sangat kuat sehingga mampu bertahan terhadap serangan pasukan Jayakarta yang dibantu Demak, Cirebon dan Banten.

Depok berjarak sekitar 13 km sebelah utara Muara Beres. Jadi wajar apabila Depok dijadikan front terdepan tentara Jayakarta saat berperang melawan Padjajaran. Hal itu dibuktikan dengan:

* Masih terdapatnya nama-nama kampung atau desa yang menggunakan bahasa Sunda antara lain Parung Serang, Parung Belimbing, Parung Malela, Parung Bingung, Cisalak, Karang Anyar dan lain-lain.
* Dr. NJ. Krom pernah menemukan cincin emas kuno pening-galan zaman Padjajaran di Nagela, yang tersimpan di Museum Jakarta.
* Tahun 1709 Abraham Van Riebeck menemukan benteng kuno peninggalan kerajaan Padjajaran di Karadenan.
* Di rumah penduduk Kawung Pundak sampai sekarang masih ditemukan senjata kuno peninggalan zaman Padjajaran. Senjata ini mereka terima turun-temurun.

Depok Zaman Islam
Pengaruh Islam masuk ke Depok diperkirakan pada 1527, dan masuknya agama Islam di Depok bersamaan dengan perlawanan Banten dan Cirebon setelah Jayakarta direbut Verenigde Oost-lndische Compagnie (VOC) yang pada waktu itu berkedudukan di Batavia. Hubungan Banten dan Cirebon setelah Jayakarta direbut VOC harus melalui jalan darat. Jalan pintas terdekat yaitu melalui Depok. Karena itu tidaklah meng-herankan kalau di Sawangan dan banyak peninggalan- peninggalan tentara Banten berupa :

* Kramat Beji yang terletak antara Perumnas Depok I dan Depok Utara. Di sekitar tempat itu terdapat tujuh sumur dan sebuah bangunan kecil yang terdapat banyak sekali senjata kuno seperti keris, tombak dan golok peninggalan tentara Banter saat melawan VOC. Dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang tinggal di daerah itu bukanlah petani melainkan tentara pada jamannya. Informasi dari Kuncen turun temurun, bahwa tempat itu sering diadakan pertemuan antara tentara kerajaan Banten dan Cirebon. Di tempat itu biasanya diadakan latihar bela diri dan pendidikan agama yang sering disebut pade-pokan. Kemungkinan nama Depok juga bersumber dari Pa-depokan Beji.
* Di Pandak (Karadenan) terdapat masjid kuno yang merupakan masjid pertama di Bogor. Lokasi masjid ini dengan Bojong Gede hanya terhalang Sungai Ciliwung. Masjid ini dibangun Raden Safe'i cucu Pangeran Sangiang bergelar Prabu Sura-wisesa, yang pernah menjadi raja mandala di Muara Beres. Di rumah-rumah penduduk sekitar masjid ini masih terdapat senjata-senjata kuno dan beberapa buah kujang peninggalan zaman Padjajaran. Jadi masjid dibangun tentara padjajaran yang masuk Islam kurang lebih tahun 1550.
* Di Bojong Gede terdapat makam Ratu Anti atau Ratu Mae-munah, seorang prajurit Banten yang berjuang melawan padja-jaran di kedungjiwa. Setelah perang selesai suaminya (raden pakpak) menyebarkan agama Islam di Priangan, sedangkan ratu anti sendiri menetap di bojonggede sambil menyebarkan agama Islam sampai meninggal.

Depok Zaman Kolonial

"...Maka hoetan jang laen jang disabelah timoer soengei Karoekoet sampai pada soengei besar, anakkoe Anthony Chastelein tijada boleh ganggoe sebab hoetan itoe misti tinggal akan goenanya boedak-boedak itoe mardaheka, dan djoega mareka itoe dan toeroen-temoeroennj a tijada sekali-sekali boleh potong ataoe memberi izin akan potong kajoe dari hoetan itoe boewat penggilingan teboe... dan mareka itoe tijada boleh bikin soewatoe apa djoega jang boleh djadi meroesakkan hoetan itoe dan kasoekaran boeat toeroen-temoeroennj a,..."

Penggalan kalimat dengan ejaan van Ophuijsen itu adalah hasil terjemahan Bahasa Belanda kuno dari surat wasiat tertanggal 14 Maret 1714 yang ditulis tangan Cornelis Chastelein, seorang Belanda, tuan tanah eks pegawai (pejabat) Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Tiga bulan kemudian Chastelein meninggal dunia, persisnya 28 Juni 1714. Cornelis Chastelein itulah yang disebut cikal bakal berdirinya Kota Depok sekarang. Di bawah wewenang Kerajaan Belanda ketika itu (1696), ia diizinkan membeli tanah yang luasnya mencakup Depok sekarang, ditambah sedikit wilayah Jakarta Selatan plus Ratujaya, Bojong Gede, Kabupaten Bogor sekarang.

Meneer Belanda itu menguasai tanah kira-kira luasnya 1.244 hek-tare, setara dengan wilayah enam kecamatan zaman sekarang. Yang menarik dari surat wasiatnya, ia melukiskan Depok waktu itu yang dihiasi sungai, hutan, bambu rimbun, dan sengaja ditanam, tidak boleh di-ganggu.

Sungai Krukut yang disebut-sebut dalam surat wasiat itu boleh jadi berhubungan dengan wilayah Kelurahan Krukut, Kecamatan Limo, Kota Depok sekarang, persisnya di selatan Cinere. Jika ada penggilingan tebu, niscaya ada tanaman tebu. Pastilah tanaman tebu itu terhampar luas dengan pengairan cukup. Bisa dibayangkan betapa elok Depok waktu itu.

Depok dan Bogor menjadi wilayah kekuasaan VOC sejak 17 April 1684, yaitu sejak ditandatanganinya perjanjian antara sultan haji dari Banten dengan VOC. Pasal tiga dari perjanjian tersebut adalah Cisadane sampai ke hulu menjadi batas wilayah kesultanan Banten dengan wilayah kekuasaan VOC.

Saat pemerintahan Daendels, banyak tanah di Pulau Jawa dijual kepada swasta, sehingga muncullah tuan tanah-tuan tanah baru. Di daerah Depok terdapat tuan tanah Pondok Cina, Tuan Tanah Mampang, Tuan Tanah Cinere, Tuan Tanah Citayam dan Tuan Tanah Bojong Gede.

Pada masa kejayaan VOC sejak akhir abad ke-17 hingga per-tengahan abad ke-18 hampir semua orang Belanda di Batavia dan sekitarnya yang kaya raya memiliki sejumlah besar pekerja. Tumbuh kembangnya jumlah pekerja antara lain disebabkan kemenangan-kemenang an yang diraih VOC atau Belanda dalam menguasai suatu daerah, yang kemudian diangkut ke Pulau Jawa.

Pada era tersebut, hidup seorang tuan tanah dermawan yang juga menaruh perhatian besar terhadap perkembangan agama Kristen di Batavia dan sekitarnya. Beliau adalah Cornelis Chastelein yang menjadi anggota Read Ordinair atau pejabat pengadilan VOC. Ayahnya Antonie Chastelein, adalah seorang Perancis yang menyeberang ke Belanda dan bekerja di VOC. Ibunya Maria Cruidenar, putri Wali Kota Dordtrecht. Sinyo Perancis-Belanda ini menikah dengan noni holland Catharina Van Vaalberg. Pasangan ini memiliki seorang putra, Anthony Chastelein, dan kawin dengan Anna De Haan.

Saat menjabat pegawai VOC, kariernya cepat melejit. Namun, saat terjadi perubahan kebijakan karena pergantian Gubernur Jenderal VOC dari J. Camphuys ke tangan Willem Van Outhorn, ia hengkang dari VOC. Sebagai agamawan fanatik, Cornelis tidak senang melihat praktek kecurangan VOC. Borok-borok moral serta korupsi di segala bidang lapisan pihak Kompeni Belanda selaku penguasa sangat berten-tangan dengan hati nurani penginjil ini. Maka ia tetap bersikukuh keluar dari VOC, beberapa saat sebelum Gubernur Jenderal VOC Johannes Camphuys mengalihkan jabatannya kepada Willem Van Outhorn.

Pada 18 Mei 1696, ia membeli tiga bidang tanah di hutan sebelah selatan Batavia yang hanya bisa dicapai melalui Sungai Ciliwung dan jalan setapak. Ketiga bidang tanah itu terletak di 6ilangan Mampang, Karanganyar, dan Depok. Tahun itu juga, ia mulai menekuni bidang per-tanian di bilangan Seringsing (Serengseng).

Untuk menggarap lahan pertaniannya yang luas itu, ia menda-tangkan pekerja dari Bali, Makassar, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Ter-nate, Kei, Jawa, Batavia, Pulau Rate, dan Filipina. Semuanya berjumlah sekitar 120 orang. Atas permintaan ayahnya dulu, ia pun menyebarkan agama Kristen kepada para budaknya. Perlahan muncul di sini sebuah padepokan Kristiani yang disebut De Eerste Protestante Organisatie van Kristenen, disingkat Depok. Semboyan mereka Deze Einheid Predikt Ons Kristus yang juga disingkat Depok.

Menjelang ajalnya, 13 Maret 1714, Cornelis Chastelein menulis wasiat berisi antara lain, mewariskan tanahnya kepada seluruh pe-kerjanya yang telah mengabdi kepadanya sekaligus menghapus status pekerja menjadi orang merdeka. Setiap keluarga bekas pekerjanya memperoleh 16 ringgit. Hartanya berupa 300 kerbau pembajak sawah, dua perangkat gamelan berlapis emas, 60 tombak perak, juga dihi-bahkannya kepada bekas pekerjanya. Pada 28 juni 1714 Cornelis Chas-telein meninggal dunia, meninggalkan bekas budaknya yang telah melebur dalam 12 marga yaitu Jonathans, Leander, Bacas, Loen, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph, Tholens, Isakh, Soediro, dan Zadhoks. Marga itu kini hanya tinggal 11 buah karena marga Zadoks telah punah.

Anthony, putra Cornelis Chastelein, meninggal pada 1715, satu tahun setelah ayahnya meninggal. Istri Anthony kemudian menikah dengan Mr. Joan Francois De Witte Van Schooten, anggota dari Agtb. Raad van Justitie des casteels Batavia.

Di Depok saat ini masih terdapat Lembaga Cornelis Chastelein (LCC) yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial. Lembaga itu dibentuk 4 Agustus 1952 dihadapan Notaris Soerojo dengan perwakilan diantaranya J.M Jonathans dan F.H Soedira.

Sementara itu, keturunan pekerja yang dimerdekakan Cornelis Chastelein itu biasa disebut Belanda Depok. Namun RM Jonathans, salah satu tokoh YLCC menyebut julukan itu tidak kondusif, seolah olah memberi pembenaran bahwa komunitas tadi merupakan repre-sentasi masyarakat Belanda yang ada di Indonesia, yang ketika itu menjajah Indonesia.

Sejak saat ini Depok terus bertumbuh dan berkembang menjadi kawasan hunian yang ramai. Pada 1871 pemerintah Hindia Belanda memutuskan menjadikan Depok wilayah otonom sendiri. Sejak itu, Depok yang kala itu telah memiliki daerah teritorial sekitar 1.249 hektare, diperintah seorang residen sebagai Badan Pemerintahan Depok tertinggi.

Depok Zaman Jepang

Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, HEIHO dan Pembela Tanah Air (PETA) dibubarkan. Putra-putri HEIHO dan PETA kembali ke kam-pungnya. Mereka diperbolehkan membawa perlengkapan kecuali sen-jata. Diproklamirkannya Indonesia pada 17 Agustus 1945, para pemuda Depok khususnya bekas HEIHO clan PETA terpanggil hatinya untuk berjuang. Pada September 1945 diadakan rapat yang pertama kali di sebuah rumah di Jaian Citayam (sekarang Jalan Kartini). Hadir saat itu seorang bekas PETA (Tole lskandar), tujuh orang bekas HEIHO dan 13 pemuda Depok lainnya.

Pada rapat tersebut diputuskan dibentuk barisan keamanan Depok yang seluruhnya berjumlah 21 orang dengan komandannya Tole Iskandar. Ke-21 orang inilah sebagai cikal bakal perjuangan di Depok.

Terbentuknya Kota Administratif Depok

Waktu terus bergulir seiring pertumbuhan ekonomi masyarakat. Tahun 1976, permukiman warga mulai dibangun dan berkembang terus hingga akhirnya pada tahun 1981 Pemerintah membentuk Kota Administratif (Kotif) Depok. Pembentukan Kotif Depok itu diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri, yang saat itu dijabat oleh H Amir Mahmud.

Bersamaan dengan perubahan status tersebut, berlaku pula Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia No 43 tahun 1981, tentang pembentukan Kotif Depok yang meliputi tiga Kecamatan. Yakni, Kecamatan Pancoran Mas, Kecamatan Beji, dan Kecamatan Sukmajaya. Ketiga Kecamatan itu memiliki luas wilayah 6.794 hektare dan terdiri atas 23 Kelurahan.

Lantaran tingginya tingkat kepadatan penduduk yang secara ad-ministratif telah mencapai 49 orang per hektare dan secara fungsional mencapai 107 orang per hektare, pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, yaitu 6,75 persen per tahun, dan pemikiran regional, nasional, dan Internasional akhirnya konsep pengembangan Kotif Depok mulai dirancang menuju kerangka Kota Depok

Untuk memenuhi tuntutan tersebut, maka diperlukan beragam upaya perwujudan organisasi yang memiliki otonom sendiri, yaitu Kota Madya Depok atau Kota Depok.

Terbentuknya Kota Depok

Pesatnya perkembangan dan tuntutan aspirasi masyarakat yang kian mendesak, tuntutan Depok menjadi kotamadya menjadi semakin mak-simum. Di sisi lain Pemda Kabupaten Bogor bersama pemda Propinsi Jawa Barat memperhatikan perkembangan tersebut, dan mengusulkan kepada Pemerintah Pusat dan Dewan Perwakilan Rakyat.

Memperhatikan aspirasi masyarakat sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan DPRD Kabupaten Bogor, 16 Mei 1994, Nomor 135/SK, DPRD/03/1994 tentang Persetujuan Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Depok dan Keputusan DPRD Propinsi Jawa Barat, 7 Juli 1997 Nomor 135/Kep, Dewan.06IDPRD/ 1997 tentang Persetujuan Pembentukan Kota Madya Daerah Tingkat II Depok maka pembentukan Kota Depok sebagai wilayah administratif baru ditetapkan berdasarkan Undang-Undang No. 15 tahun 1999, tentang pembentukan Kota Madya Daerah Tk. II Depok yang ditetapkan pada 20 April 1999.

Kota Depok itu sendiri diresmikan 27 April 1999 berbarengan dengan pelantikan Pejabat Wali Kota Madya Kepala Daerah Tk. I I Depok, Drs. H. Badrul Kamal, yang pada waktu itu menjabat sebagai Wali Kota Administratif Depok.

Momentum peresmian kotamadya ini dapat dijadikan landasan bersejarah dan tepat dijadikan hari jadi kota Depok. Wilayah Kota Depok diperluas ke Kabupaten Bogor lainnya, yaitu Kecamatan Limo, Kecamatan Cimanggis, Kecamatan Sawangan dan sebagian Kecamatan Bojong Gede yang terdiri dari Desa Bojong Pondok Terong, Ratujaya, Pondok Jaya, Cipayung, dan Cipayung Jaya. Hingga kini wilayah Depok terdiri dari enam kecamatan terbagi menjadi 63 kelurahan, 772 RW, 3.850 RT serta 218.095 Rumah Tangga.

Depok menjadi salah satu wilayah termuda di Jawa Barat dengan luas wilayah sekitar 207.006 km2 yang berbatasan dengan tiga kabupaten dan satu provinsi.

Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Ciputat Kabupaten Tangerang dan masuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, dan Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Cibinong dan Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Parung dan Kecamatan Gunung Sindur Kabupaten Bogor. (panser.withboards.com)

Hello Assalamu'alaikum sahabat blogger tercinta atau siapapu yang datang kesini. Silahkan baca artikelnya mudah-mudahan bermanfaat kalo sudah baca jangan lupa memberikan komentar, apapun komentarnya, yang enak maupun yang tidak enak, boleh memuji maupun mencela yang penting kasih komentar. Makasih yah.

ZIKIR YANG AMPUH

Award Dari Sahabat

    Award dari Sahabat

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Blog Sahabat

Bendera Negara Pengunjung

free counters